Selamat Datang!!!

Admin - Selamat datang di blog PMK STAN Angkatan '05

Selamat menikmati isi dari blog ini

Semoga dapat menjadi berkat bagi kita semuanya

dan mampu menjadi media komunikasi yang efektif

"Kamu sangat berarti

Istimewa dihati

Selamanya rasa ini

Jika tua nanti

Kita tlah hidup masing-masing

Ingatlah hari ini"

PENYANYI-PENYANYI DI DALAM KEGELAPAN

on Kamis, 21 Mei 2009

Peru, abad ke-20

Rakyat sedang berkumpul pada hari pasar di desa Tayabamba, yang letaknya di daerah pegunungan Peru. Di mana-mana di sekeliling desa kecil itu, ada gunung-gunung yang menjulang tinggi ke angkasa.

Jauh di atas pada sebuah lereng bukit, ada seorang pria yang sedang berjalan kaki sambil memandang ke bawah, ke pasar desa di lembah itu. Nama pejalan kaki itu Renoso; ia seorang buruh harian. Matanya berbinar-binar kesenangan melihat pemandangan indah yang terbentang di depannya. Bagus sekali negeri Peru milik kita ini! katanya dalam hati.

Lalu Renoso mulai turun ke desa Tayabamba. Jalannya jelek. Setiap orang di daerah itu yang mampu, suka bepergian dengan menunggang bagal, keturunan kuda dan keledai. Tetapi bagi Renoso yang keuangannya pas-pasan, . . . kedua kakinya yang kuat itulah yang menjadi bagalnya! Sekalipun ia tidak mempunyai binatang tunggangan, namun hatinya senang.

Renoso sedang dalam perjalanan pulang setelah bekerja di suatu tempat di balik bukit. Ia membawa serta uang penghasilannya dari pekerjaan itu. Dalam ranselnya ia membawa juga Alkitabnya, buku lagu rohaninya, dan sebuah majalah gereja yang berjudul Kelahiran Kembali. Baik di kampung halamannya maupun di tempat ia bepergian, Renoso selalu setia sebagai anggota gerejanya.

Pasar mingguan itu masih ramai ketika Renoso tiba di desa Tayabamba. Ia tersenyum. Tadi ia merasa kesepian selama dalam perjalanan jauh di pegunungan tinggi. Kini ia dapat menikmati keramaian pasar. Mungkin ia akan membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang kepada ibunya besok. Mungkin ia akan bercakap-cakap dengan berbagai macam orang. Renoso sangat peramah; tidak ada yang lebih menyenangkan hatinya daripada percakapan yang ramah.

Ternyata orang-orang di desa itu suka bergaul dan rela mengobrol. Ada yang datang dari desa-desa lain untuk menjual barang dagangannya di Tayabamba. Ada yang masih sibuk berjualan; ada yang sudah siap pulang. Dan ada juga yang sudah siap untuk pergi berbakti dengan cara-cara mereka yang khas.

Sambil bercakap-cakap Renoso memperhatikan orang-orang yang hendak pergi berbakti itu.

"Kami tidak berbakti dengan cara-cara seperti itu," katanya, seolah-olah mengobrol secara iseng-iseng saja. "Kami suka berbakti dengan membaca Alkitab, dan dengan menyanyikan lagu-lagu rohani." Dan ia pun mengeluarkan Alkitabnya dari ranselnya.

Orang-orang desa itu nampaknya tertarik sekali. Belum pernah mereka melihat sebuah Alkitab! Maka Renoso memperlihatkannya dan membacakan satu dua cerita dari halaman-halamannya.

"Buku itu bagus sekali!" kata seorang penduduk desa yang nama julukannya Paman Besar.

Renoso menggeleng. "Mungkin tidak, kecuali kalau mereka itu sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus."

"Kalau begitu, juallah Buku itu kepada kami," desak Paman Besar. "Aku ingin mendengar isinya lebih banyak lagi."

"Maaf, Paman, aku tidak dapat menjualnya," jawab Renoso. "Buku ini diberikan kepadaku pada suatu hari yang istimewa sekali." Ia membuka halaman depannya. "Lihat! Namaku dan tanggal pembabtisanku tertulis di sini dengan huruf besar. Maafkan, aku tidak dapat menjual Alkitabku."

Pada malam itu Renoso menginap di desa Tayabamba. Banyak orang yang berkumpul di sekelilingnya: Paman Besar, Kakek Tua, Si Pincang, dan beberapa penduduk desa yang lain. Mereka semua menyukai Renoso. Mereka semua ingin mendengar lebih banyak lagi tentang tempat-tempat yang dilihat dalam perjalanannya, dan tentang cara-cara berbakti di gerejanya.

"Mengenai cara berbakti itu," kata Paman Besar. "Katamu, kalian biasa menyanyi?"

""Betul, Paman," Renoso mengiakan. "Kami menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan Allah, dan lagu-lagu doa yang memohon pertolonganNya dan bimbinganNya."

"Ayo, nyanyikan salah satu lagu itu!" seru Si Pincang.

"Ya, ya, nyanyikan sebuah lagu bagi kami!" semuanya turut mendesak.

Mula-mula Renoso merasa bahwa mereka bergurau saja. Ia bukan seorang penyanyi! Bagaimana ia dapat menyanyikan sebuah lagu rohani bagi mereka?

Namun wajah setiap orang yang sedang menatapnya itu nampak begitu mengharap-harap. "Suaraku jelek," katanya ragu-ragu. Tetapi melihat kekecewaan mereka, ia pun memberanikan diri. "Baiklah! Aku akan mencoba bernyanyi. Tetapi kalian harus turut bernyanyi juga! Aku akan mengajarkan kalian sebuah lagu rohani."

Maka mulailah Renoso bernyanyi. Ia menyanyi tentang kasih Allah. Ia memuji-muji Allah atas kebaikanNya. Melodi lagu itu polos sekali; kata-katanya sangat sederhana. Setiap anak di gereja Renoso sudah biasa menyanyikan lagu itu, dengan suaranya yang merdu.

Mula-mula para penduduk desa Tayabamba dengan susah payah ikut menyanyi. Mereka belum biasa mendengarkan lagu seperti itu, apalagi menyanyikannya! Suara Kakek Tua terdengar sering pecah. Sesuai dengan nama julukannya, Paman Besar mempunyai suara besar, tetapi nadanya sering sumbang. Tetapi si Pincang pandai menyanyi. Suaranya mengalun tinggi, seolah-olah ia sudah lama mengenal lagu itu. Memang suaranya kedengaran agak kasar, namun not-notnya tepat.

Berkali-kali lagu rohani itu diulangi. Para ibu yang duduk di pojok-pojok ruang yang gelap itu juga turut menyanyi. Anak-anak duduk mendengarkan dengan mata tak berkedip, sedangkan para orang tua mereka mengangkat suara.

"Ayo, biarlah Alkitab itu tetap tinggal disini," Kakek Tua mendesak lagi.

"Maaf sekali, Kakek," kata Renoso sambil menolak secara halus. "Tetapi, . . . ya, sudah . . . aku akan meninggalkan buku lagu rohaniku pada Kakek, dan juga majalah ini dari gerejaku. Lihat judulnya: Kelahiran Kembali. Itulah yang terjadi atas tiap orang yang mengikut Tuhan Yesus. Ia menjadi manusia baru, seolah-olah ia lahir kembali."

Keesokan harinya Renoso berangkat menuju kampung halamannya. Dalam hati ia bertanya-tanya tentang desa Tayabamba: Alangkah baiknya kalau bapak pendeta dapat pergi ke sana! Namun desa itu letaknya empat hari perjalanan dari tempat tinggal bapak pendeta. Banyak desa lain yang lebih dekat, yang juga belum sempat mendengar Kabar Baik tentang Tuhan Yesus.

Sepeninggal Renoso, orang-orang di desa Tayabamba itu tidak memikirkan tentang kedatangan seorang pendeta. Bukankah mereka sudah mempunyai sebuah buku lagu rohani dan sebuah majalah Kristen? Semua orang yang berminat, suka berkumpul sehabis kerja di rumah Paman Besar. Si Pincang yang membacakan buku dan majalah itu bagi mereka; tidak ada orang lain yang sepandai dia. Bahkan sebagian di antara mereka itu buta huruf. Mereka hanya dapat belajar dengan mendengarkan saja.

Si Pincang membacakan kata-kata dari lagu rohani yang telah mereka hafalkan, yang halamannya telah ditandai oleh Renoso. Berkali-kali mereka menyanyikannya. Lalu dengan susah payah, kata demi kata Si Pincang membacakan kata-kata dari lagu-lagu lain. Ia juga membacakan isi majalah Kelahiran Kembali. Ada yang sama sekali tidak dapat mereka pahami. Tetapi ada juga yang jelas artinya, karena masih ada hubungannya dengan hal-hal yang sudah disebut-sebut oleh Renoso.

"Bagaimana kita dapat menyanyikan lagu-lagu yang lain itu?" tanya Nenek Tua. "Melodi yang diajarkan Renoso itu tidak cocok dengan kata-kata yang lain."

Memang betul. Sudah berkali-kali mereka berusaha mencocokkan not-not itu pada lagu-lagu rohani yang lain, tetapi sia-sia semua.

"Mari kita membuat melodi sendiri," usul Si Pincang dengan mantap. "Kata-kata itulah yang akan menjadi penunjuk, bagaimana kita dapat menyanyikannya." Maka dengan gembira mulailah mereka ramai-ramai membuat dan menyanyikan lagu-lagu rohani dengan melodi-melodi baru.

Pada suatu hari Si Pincang melihat sebuah iklan dalam majalah Kelahiran Kembali. Iklan itu dari sebuah toko buku Kristen di Lima, ibu kota Peru. Di dalam iklan itu disebutkan juga buku lagu rohani yang sudah mereka miliki. Katanya, buku itu dapat dibeli dengan harga sekian.

Lalu si Pincang menemukan sesuatu yang mengejutkan sekali dalam iklan itu. Alkitab juga dapat dibeli! Alkitab yang sama seperti Alkitab milik Renoso! Dengan berjalan tertatih-tatih Si Pincang cepat-cepat pergi ke rumah Kakek Tua dan rumah Paman Besar untuk memberitahukan berita baik itu.

Malam itu mereka berkali-kali menghitung ongkosnya. Akhirnya mereka berhasil memposkan sepucuk surat kepada toko buku Kristen di kota Lima. Pesanan mereka: beberapa Alkitab, beberapa buku lagu rohani, dan beberapa barang cetakan yang lain.

Para pengurus toko buku di ibu kota itu heran. Setahu mereka, tidak ada seorang pun di desa pegunungan yang terpencil itu. Namun mereka segera melayani pesanan itu. "Tayabamba, . . ." sewaktu-waktu mereka berkata satu kepada yang lain. "Siapa kira-kira yang ingin punya Alkitab dan buku lagu rohani di desa Tayabamba?"

Alangkah senangnya Si Pincang, Paman Besar, dan Kakek Tua ketika pospaket yang dimuat di atas punggung seekor bagal itu tiba! Banyak penduduk desa berkumpul pada saat bungkusan itu dibuka. Tetapi orang-orang percaya itu tidak memperhatikan bahwa ada juga musuh-musuh mereka yang mengerutkan dahi. Mereka tidak peduli, oleh karena mereka begitu penuh dengan sukacita: Kini mereka mempunyai Alkitab yang sama seperti Alkitab milik Renoso.

Dengan Alkitab dan buku lagu rohani di dalam tangan mereka masing-masing, semua orang Kristen yang sudah dapat membaca sedikit itu makin lama makin pandai. Memang mereka harus membaca dalam bahasa Spanyol dan bukan dalam bahasa daerah, namun mereka berhasil juga.

"Lihat ini," kata Paman Besar sambil menunjuk pada sebuah majalah Kristen. "Di sini ada gambar anak-anak yang disuruh berkumpul untuk mendengarkan cerita-cerita Alkitab. Kenapa kita tidak menirunya? Belajar ayat-ayat dan lagu-lagu rohani itu sangat berguna bagi anak-anak."

"Gagasan yang baik!" kata Si Pincang. "Mari kita adakan sekolah untuk anak-anak di desa ini!"

Dan mulailah mereka mengadakan Sekolah Minggu untuk anak-anak. Hanya saja, mereka belum tahu ada istilah khusus "Sekolah Minggu", maka mereka menyebutnya "sekolah" saja.

"Nah, lihat!" kata musuh-musuh orang Kristen di daerah itu. "Mereka telah membuka sekolah tanpa izin!"

Alangkah terkejutnya Paman Besar, Kakek Tua, dan Si Pincang serta beberapa teman pria mereka ketika mereka ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara!

Mereka semua dimasukkan ke dalam satu sel yang kotor dan gelap. Tiga perempat dari lantainya basah. Di sel itu hanya ada satu jendela, dan itu pun tinggi di atas kepala mereka. Pintu besar dari balok-balok kayu itu dipalang rapat-rapat.

Para ibu diizinkan membawakan jerami dan tikar ke penjara sebagai tempat-tempat tidur. Sekali sehari mereka pun boleh mengirim makanan. Tetapi pintu itu tetap terkunci, dan tidak ada seorang pun di dunia luar yang tahu, bagaimana masib para tahanan itu kelak.

Sepanjang hari orang-orang Kristen yang sedang ditahan itu hanya dapat duduk-duduk saja.

Satu hari lewat. Lalu tibalah hari kedua.

"Aku ada akal," kata Si Pincang. "Mari kita kirim telegram kepada toko buku Kristen di kota Lima. Mungkin para penjual Alkitab itu dapat mengutus seseorang untuk menolong kita."

"Wah, nekat sekali usul itu!" balas Kakek Tua. "Tetapi siapa lagi yang mau menjadi teman kita?" Lalu ia mengeluh lirih; sendi-sendinya yang tua itu sudah terasa pegal karena ia harus duduk lama pada lantai yang lembab.

Nenek Tualah yang bersedia mengirimkan telegram. "Tapi sebaiknya jangan dari sini," katanya. "Akan ketahuan oleh musuh-musuh kita. Biar aku besok jalan kaki ke desa yang lain, lalu mengirimkannya dari sana.

Hari ketiga pun tiba . . . dan lewat pula.

"Aku ada akal lagi," kata Si Pincang. "Mari kita menyanyikan lagu-lagu rohani!"

Maka mulailah mereka menyanyi. Penjaga penjara itu heran mendengar nyanyian-nyanyian yang ria dari sel yang gelap itu. Berturut-turut mereka menyanyikan semua lagu yang sudah mereka hafal. Lalu mereka mengarang sendiri melodi-melodi baru untuk lagu-lagu yang kata-katanya sudah mereka dengar.

Tiap-tiap hari mereka menyanyi, bahkan kadang-kadang sampai jauh malam. Di antara saat-saat menyanyi itu, mereka pun bercakap-cakap dengan hati yang senang, serta membuat rencana tentang kegiatan mereka setelah dibebaskan kelak.

Pada suatu hari ada kabar yang menyedihkan: Istri dari salah seorang tahanan itu meninggal.

Para tahanan lainnya berusaha menghibur dia. Mereka juga berusaha membujuk penjaga penjara agar ia mengizinkan orang itu pulang selama satu hari saja.

"Biarkan dia pulang!" Penjaga penjara itu kaget pada saat ia membeo seruan yang terdengar dari sel yang gelap. "Wah, bisa-bisa ia melarikan diri!"

"Bukakan pintu!" seru Paman Besar. "Pasti dia akan kembali lagi."

Dengan ragu-ragu penjaga penjara itu akhirnya membukakan pintu. Orang yang istrinya baru mati itu diperbolehkan pulang.

Petang harinya, ia memang datang kembali ke penjara. "Terima kasih banyak, Suadara," katanya kepada penjaga. "Keluargaku merasa terhibur oleh karena aku diizinkan pulang untuk turut menguburkan istriku."

Penjaga itu melongo keheranan. "Aneh benar ajaran baru ini!" gumamnya. "Siapa yang percaya bahwa seorang tahanan dengan sukarela akan kembali ke penjara?"

Seminggu . . . lalu dua minggu lewatlah sudah.

"Untung sekali kita dipenjarakan!" kata Si Pincang dengan semangat. "Kalau kita sibuk dengan tugas sehari-hari, pasti tidak ada waktu untuk mempelajari lagu-lagu rohani ini."

Ia berdiri di pojok sel yang paling basah, di mana seberkas cahaya dari jendela tinggi itu menyinari buku nyanyiannya. "Nah, di sini ada sebuah lagu rohani berupa doa, . . . seruan minta keberanian dan kesabaran; Tentu saja kita perlu keberanian dan kesabaran; jangan-jangan seumur hidup kita akan tetap terkurung di dalam kegelapan ini!" Maka mulailah Si Pincang menyanyikan lagu baru itu.

Pada suatu hari penjaga penjara berbicara dengan sungguh-sungguh kepada para pamong desa Tayabamba. "Lebih baik mereka dibebaskan saja," begitulah nasihatnya. "Telingaku pekak mendengar nyanyian mereka yang tak kunjung berakhir. Apalagi ada tahanan-tahanan lain yang mulai terpengaruh oleh ajaran-ajaran mereka. Tambahan pula, mustahil kita dapat terus menahan mereka dengan alasan yang sepele saja."

Para pamong desa mengerutkan dahi. Mereka juga merasa terganggu dengan nyanyian yang terus menerus berkumandang itu. Apalagi, banyak penganggur sudah mulai berkumpul di luar tembok penjara. Penyanyi-penyanyi di dalam kegelapan itu sudah banyak menarik perhatian.

Akhirnya para pamong desa itu mengambil keputusan: "Baiklah, lepaskan mereka."

Penjaga penjara itu tidak menunda-nunda. Segera ia melangkahkan kakinya ke arah pintu penjara. Palang dan kunci dibukakannya semua. "Bebas, kalian semua bebas!" serunya ia tersenyum, karena dalam hati ia merasa kagum akan para tahanan yang tabah hatinya itu. "Pulanglah dengan selamat!"

Gembira sekali suasana pada malam itu di rumah setiap orang Kristen. Kemudian mereka semua berkumpul di rumah Paman Besar. Di sana mereka menyanyi, sama seperti waktu mereka menyanyi di dalam kegelapan. Di sana pula mereka mengucap syukur oleh karena masa tahanan mereka sudah lewat.

Beberapa hari kemudian, seorang penginjil memasuki desa Tayabamba dengan menunggang seekor bagal. Telegram kepada toko buku Kristen itu memang sudah diterima. Secepat mungkin penginjil itu dikirim ke sana.

Sesampainya di desa Tayabamba, penginjil itu agak bingung tentang hukum yang berlaku di sana. Namun ketika ia mendengar bahwa semua tahanan itu telah dibebaskan, hatinya lega. Sekarang ia dapat memakai waktunya dengan lebih terarah.

"Tiga puluh orang di sini sudah mulai membaca Alkitab," Si Pincang menjelaskan. "Lebih dari tiga puluh orang yang suka mendengar ajaran-ajarannya. Tetapi kami semua perlu lebih tahu bagaimana caranya mengikuti Tuhan Yesus."

Maka selama beberapa hari penginjil itu menetap du desa Tayabamba. Sesuai dengan permintaan Si Pincang, ia menolong orang-orang Kristen baru itu agar "lebih tahu bagaimana caranya mengikuti Tuhan Yesus." Ia pun bercerita kepada mereka tentang umat Kristen lainnya di seluruh dunia. Lalu ia pergi lagi, dengan janji akan datang kembali sewaktu-waktu.

Satu demi satu ada lagi penduduk desa Tayabamba yang rela mulai membaca Alkitab atau rela mulai mendengarkan pembacaannya. Satu demi satu ada lagi orang-orang baru yang percaya kepada Tuhan Yesus. Jumlah umat Kristen di desa itu tidak lagi hanya berpuluh-puluh orang saja, melainkan beratus-ratus orang.

Kadang-kadang penjaga penjara di desa Tayabamba itu masih suka bingung. Aneh . . . katanya pada dirinya sendiri, sejak aku membebaskan tahanan-tahanan itu, kejahatan di sini semakin berkurang. Tidak lagi sering terjadi perkelahian atau perjudian; tidak lagi banyak orang yang mabuk-mabukan. Tentu ini adalah perubahan cara hidup yang mengagumkan . . . berkat adanya penyanyi-penyanyi di dalam kegelapan itu!

Sumber: http://misi.sabda.org/cerita_isi.php?id=10

Selanjutnya..

EMPAT EKOR AYAM DAN EMPAT HARI PERJALANAN

(Afrika, abad ke-20)

Di kampung halaman si Bula, jarang ada orang yang mempunyai kelebihan uang. Di daerah Afrika itu, biasanya orang tukar-menukar untuk mendapat apa saja yang diperlukan. Tambahan pula, si Bula hanyalah seorang anak laki-laki; jika kaum dewasa sukunya kekurangan uang, apa lagi anak-anak!

Bula berjalan pelan-pelan menuju padang, tempat kambing-kambing sedang merumput. Ia duduk di bawah pohon kecil sambil terus memeras otak.

"Aku harus mendapat uang," ia bergumam. "Tidak baik meminta ayahku. Kalau memberi persembahan di gereja, seharusnya itu uangku sendiri, bukan uang yang dititipkan oleh orang lain."

Muncullah si Walif; ia mau bermain dengan Bula. Tetapi si Bula tidak mau bermain.

"Hatiku tidak tenang karena kata-kata Pendeta Musa tadi pagi," kata Bula.

"Memang mengejutkan," Walif mengiakan. "Sampai sekarang kata-katanya seolah-olah masih dapat kudengar."

"Baru kutahu!" cetus Bula. "Baru kutahu di dunia ini masih ada orang yang belum punya Alkitab! Rasanya kita di sini adalah suku terakhir yang diberi Alkitab."

Walif mengangguk. "Tetapi tadi pagi Pendeta Musa begitu yakin. Katanya, pasti ada orang lain yang masih sangat memerlukan Alkitab."

"Bukan kata-katanya itu yang mengganjal di hatiku," Bula mengaku dengan terus terang. "Kalau ia berkata masih ada orang lain yang memerlukan Alkitab, pasti itu benar, sebab Pendeta Musa tidak pernah bohong. Tapi ia juga berkata, kita yang sudah punya Alkitab . . ."

". . . harus turut meneruskan Alkitab kepada orang lain," kata Walif, menyempurnakan kalimat temannya. "Yah, kata-kata itulah yan mengganjal di hatiku juga. Apa lagi, persembahan khusus akan dikumpulkan hari Minggu depan. Kalau aku tidak memasukkan apa-apa ke dalam tempurung itu, . . . bagaimana?"

"Wah, malu rasanya!" kata Bula sambil mengeluh.

"Tapi . . . aku tidak punya uang."

"Aku juga tidak punya uang," kata Bula membeo.

"Dan . . ." Walif berhenti sejenak, sambil berpikir. "Nggak ada milikku yang dapat kujual."

"Memang, nggak ada . . ."

Selama beberapa menit kedua anak laki-laki suku Afrika itu duduk termenung; muka mereka masing-masing sangat sedih.

"Nanti dulu," kata Walif dengan tiba-tiba. "Bagaimana dengan ayam?"

"Ya, bagaimana?" Bula membalas.

"Sang kepala suku akan mengadakan pesta akhir bulan ini. Pasti ia mau membeli ayam."

Bula mulai tersenyum lagi. "Aku punya ayam."

"Aku juga."

"Ayam milikku sendiri," Bula menambahkan. "Kalau aku mau menjual ekor, boleh saja."

"Tetapi . . ." Sekonyong-konyong Walif kembali bermuka masam. "Rasanya kurang enak kalau orang lain makan daging ayam, sedangkan kita hanya makan kacang."

"Memang kurang enak," Bula mengiakan.

Lalu Bula bangkit berdiri seperti seorang tentara cilik. "Walif, rasanya lebih kurang enak lagi kalau ada orang lain yang belum punya Alkitab! Kalau kita dapat kirim uang seharga dua ekor ayam kepada orang-orang di negeri yang jauh, pasti kita dapat bertahan walau hanya makan kacang saja."

Walif juga berdiri tegak. Ia sudah siap bertindak. "Yuk, kita tangkap ayam-ayam itu!"

Kedua anak laki-laki itu berlari tunggang langgang ke sebuah kandang yang pagarnya semak berduri. Mereka memilih beberapa ekor ayam yang baik untuk dijual.

Lalu . . . mulailah perburuan! Kedua anak laki-laki itu berlari dan melompat ke sana ke mari. Bula mengira ia sudah mendapat seekor babon gemuk; ternyata ia hanya mendapat dua buluh ekor yang panjang. Walif merasa ia sudah menangkap seekor jago, tetapi jago itu berkeok-keok dan menggelepur sampai lolos lagi.

Ketika kedua anak itu berhasil menangkap masing-masing dua ekor, napas mereka sudah terengah-engah. Kaki ayam-ayam itu diikat dengan tali rumput. Lalu Bula dan Walif bergegas pergi ke sebuah rumah kepala suku.

Tetapi yang mereka terima di sana hanyalah kekecewaan belaka. Juru masak kepala suku itu menawarkan sejumlah uang yang sangat kecil. "Nanti setiap anak laki-laki suku ini pasti akan membawa ayam ke mari untuk dijual," katanya mencibir. "Apakah sang kepala suku itu orang kaya, yang dapat membayar dengan harga kota? Sesen pun tawaranku tadi tak akan kutambah!"

Bula dan Walif mundur dari rumah kepala suku. Mereka duduk di bawah naungan sebuah pohon yang cukup jauh sehingga juru masak itu tidak dapat mendengar percakapan mereka. Di sana mereka mempertimbangkan tawarannya tadi.

Timbullah sebuah pertanyaan: "`Harga kota'? Apa sih maksudnya?"

Bula pergi menanyakan hal itu kepada ayahnya. Lalu ia kembali melaporkan kepada Walif.

"Wah!" cetus si Bula. "Kata Ayah, di kota orang-orang rela membayar hampir dua kali lipat tawaran si juru masak tadi!"

"Tetapi kota itu dari sini delapan puluh kilometer jauhnya," Walif mengingatkan dia.

"Minggu ini sekolah libur," kata Bula. "Kita dapat berjalan ke sana."

"Berjalan!" Si Walif melongo. "Jalan kaki? Itu 'kan pasti makan waktu dua hari!"

"Ya, dua hari." Si Bula mengangguk. "Kita sudah sering berjalan sejauh empat puluh kilometer sehari. Lagi pula, rumah pamanku kira-kira separo perjalanan. Kita dapat bermalam di rumah pamanku!"

Memang Walif tahu bahwa ia dan Bula sudah biasa bepergian jauh. Ia pun tahu bahwa paman Bula pasti akan menerima mereka kalau menginap di rumahnya. Hanya saja . . . apakah hasilnya nanti sepadan dengan susuah payah mereka?

"Kalau kita menjual di sini, kita hanya dapat memberi persembahan seharga empat ekor, demi menolong orang lain mempunyai Alkitab," kata Walif pelan-pelan sambil mengerutkan dahinya. "Tetapi kalau kita menjual di kota, kita dapat memberi persembahan seharga delapan ekor ayam!"

"Yuk, kita pergi!" Bula mengajak. "Persembahan kita menjadi dua kali lipat, dan kita pun bersenang-senang pergi ke kota!"

"Maksudmu, kita bersusah payah pergi ke kota," kata Walif. Ia merintih, seolah-olah ia sudah merasakan sakit kaki. "Tapi . . . uang persembahan kita nanti memang menjadi dua kali lipat, ya?"

Kedua anak laki-laki itu pulang dan meminta izin kepada orang tua mereka masing-masing. Keesokan paginya mereka berangkat. Cukup sulit perjalanan itu! Di samping empat ekor ayam, mereka juga harus membawa bekal makanan.

Namun benar, setiba di kota, dengan mudah mereka berhasil menjual empat ekor ayam itu. Benar juga, "harga kota" itu dua kali lipat dengan harga yang ditawarkan oleh juru masak kepala suku. Uang logam yang banyak itu gemerincing di tangan mereka.

Perjalanan pulang mereka sangat menyenangkan. Bula dan Walif mengikatkan uangnya masing-masing. Dan uang itu walau cukup banyak, terasa ringan. Langkah kedua anak laki-laki itu mantap; wajah mereka berseri-seri.

Pada hari Minggu berikutnya, Pendeta Musa berdiri di depan jemaatnya. Sekali lagi ia menjelaskan mengenai keperluan persembahan khusus, yaitu agar orang-orang di negeri yang jauh dapat memiliki Alkitab.

Tempurung itu diedarkan dari tangan ke tangan. Bula dan Walif tersenyum lebar. Uamg logam yang banyak itu kembali gemerincing dengan keras pada saat menjatuhkannya ke dalam tempurung yang mereka pegang bersama.

Seluruh jemaat turut bergembira; bahkan Pendeta Musa sendiri tersenyum. Mereka semua sudah mengetahui tentang perjalanan si Bula dan si Walif. Mereka pun tahu bahwa kedua anak laki-laki itu rela menempuh perjalanan selama empat hari, agar dapat menjual empat ekor ayam dengan harga dua kali lipat. Dan pada hari itu pula, cukup banyak uang persembahan yang dimasukkan ke dalam tempurung, oleh orang-orang Kristen suku Afrika yang baru menyadari tanggung jawab mereka untuk meneruskan Firman Allah kepada orang-orang lain.

Selanjutnya..

BISKUIT YANG DITUKAR DENGAN BUNYI

on Minggu, 10 Mei 2009

(Kepulauan Vanuatu, 1848 - 1872)

"Darat!" seru seorang kelasi yang sedang bertengger di mercu yang tiang itu. "Ada darat di sana!" Suaranya mengalun dari atas ke bawah, ke geladak kapal layar yang sedang melintasi Lautan Pasifik itu.

Seluruh isi kapal itu segera naik dari bawah. Sudah lama mereka rindu menyaksikan daratan! Ada kelasi yang mulai naik ke tiang layar untuk dapat melihat lebih jauh ke arah haluan. Ada penumpang yang lari ke kayu rimbat di pinggir geladak.

Salah seorang penumpang itu adalah seorang pemuda bernama John Geddie. Ia pun rindu sekali menyaksikan daratan yang sudah nampak di kejauhan itu. Pasti daratan itu lain sekali daripada apa saja yang pernah dilihatnya sepanjang umur.

John Geddie berasal dari negara Kanada, propinsi Nova Skotia. Ia sudah mengenal lautan, tetapi lautan di sana ditumbuhi pohon cemara dan pines, dan sering tertutup salju.

Lain sekali dengan daratan yang sedang dituju oleh kapal layar itu! John Geddie telah datang ke daerah Pasifik Selatan yang panas lembab, agar ia dapat memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus kepada para penduduk Kepulauan Vanuatu. Atau lebih tepat: Ia berharap ada kesempatan memberitakan Kabar Baik kepada mereka, sebelum mereka sempat memakan dia, . . . karena pada tahun 1848, masih ada di antara penduduk Vanuatu itu yang suka makan daging manusia.

Selama kapal berlayar mendekati pelabuhan, John Geddie menunggu dengan perasaan kurang sabar. Pulau itu nampaknya seperti zamrud hijau di tengah-tengah lauatan nan biru. Pohon-pohon palem menjulang tinggi di pantai pasir putih. Ternyata pulau yang pertama-tama dilihat John Geddie itu bernama pulau Aneityum. Penduduk pulau itu sudah biasa didatangi orang asing. Mereka suka berdagang dengan para pendatang yang naik kapal dari jauh. Jadi, John tidak usah khawatir akan dibunuh dan dimakan selama ia menetap di pulau Anityum itu.

Dengan mudah John Geddie menyewa sebuah rumah. Para tetangganya yang baru itu rupanya cukup ramah. Namun mereka kurang berminat akan ajarannya tentang Tuhan Yang Maha Esa.

"Kami punya ilah-ilah sendiri," demikian kata orang-orang Vanuatu itu. "Buat apa kamu mau mendengar tentang ilah lain yang diceritakan orang asing yang warna kulitnya sudah luntur itu?"

Tidak lama kemudian, kapal laut yang telah membawa John Geddie ke pulau Aneityum itu berangkat lagi. Ia berdiri di pantai sambil melambaikan tangannya selama layar itu kelihatan semakin kecil di kejauhan.

Di pantai itu, di kelilingnya berdiri bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak. Mereka semua asyik bercakap-cakap. Namun tidak ada satu kata pun yang dapat dipahami oleh John Geddie.

Sudah jelas, aku harus belajar bahasa mereka, kata John dalam hatinya. Maka pada saat kapal layar itu makin menghilang di lautan lepas, ia mulai mendengarkan baik-baik lagu kalimat yang sedang diucapkan di sekitarnya.

Penduduk pulau Aneityum yang suka berdagang itu cukup pandai berbicara bahasa Inggris. Mereka biasa bisa menggali akar ararut (ubi garut), lalu menawarkannya kepada para pendatang. Biasanya daripada menerima uang, mereka lebih suka tukar-menukar saja, sehingga dengan demikian mereka mendapat barang-barang yang mereka inginkan.

Tetapi masalahnya, bahasa Inggris yang cocok untuk perdagangan tukar menukar itu, bukanlah bahasa Inggris yang cocok untuk memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus. Apa lagi, John Geddie tidak berminat mengajarkan bahasa Inggris kepada penduduk pulau itu.

Buat apa aku mengajar mereka membaca Alkitab dalam bahasa Inggris? tanya John pada dirinya sendiri. Sebaiknya, aku mau belajar bahasa Aneityum, bahasa mereka. Bila aku menceritakan isi Alkitab, aku ingin supaya mereka semua dapat mengerti, dari nenek yang paling tua samapi anak yang paling kecil. Aku ingin menjadi begitu pandai berbicara dalam bahasa mereka, sampai-sampai mereka akan merasakan bahwa aku adalah salah seorang dari antara mereka.

Tidak lama kemudian, John Geddie memang dapat mengucapkan banyak kata dalam bahasa Aneityum. Namun ia belum puas. Ia sering meminta orang-orang Vanuatu mengulangi sampai berkali-kali satu kata yang sama. Ia pun minta supaya satu kata itu mereka ucapkan dengan sangat pelan-pelan, agar ia dapat membeo bunyi yang sedang didengarnya itu.

Tetapi penduduk pulau itu kurang senang jika terus-menerus mengulangi kata-kata yang sama. Malu rasanya, jika harus bertalu-talu mengluarkan bunyi yang sama, . . . hanya agar seorang asing dapat memperhatikan mulut mereka. Lambat laun mereka tidak segan-segan menyatakan rasa bosan atau rasa tersinggung mereka; satu persatu mereka meninggalkan di seorang diri.

Wah, bagaimana aku dapat menguasai bunyi bahasa ini? tanya John Geddie pada dirinya sendiri. Apa lagi, jika aku tidak dapat menguasai bunyinya, bagaimana aku dapat menyusun tanda-tanda tulisan untuk bahasa ini yang belum pernah ditulis?

Pada suatu hari John sedang mengunyah sepotong biskuit kapal. Biskuit kapal itu lain daripada biskuit kaleng--keras sekali, dan rasanya asin. Justru karena kerasnya, biskuit semacam itu dapat bertahan lama. Pada masa lampau, selama pelayaran yang memakan waktu panjang, biskuit kapal biasa dibawa serta sebagai bekal.

Mula-mula John Geddie tidak suka memakan biskuit kapal. Tetapi lambat laun ia mulai menyukai rasanya, sehingga pada waktu kapal hendak melanjutkan perjalanannya, ia minta supaya ditinggalkan satu peti biskuit itu baginya. Sewaktu-waktu ia mengunyah sepotong biskuit yang keras dan asin rasanya itu.

Pada waktu John sedang makan-makan, kebetulan lewatlah seorang Vanuatu. Ia salah seorang penduduk setempat yang telah meninggalkan John tanpa pamit, karena ia bosan atau tersinggung jika diminta berulang-ulang mengucapkan kata yang sama. Namun John ingin tetap bersikap ramah terhadap tetangganya itu, maka ia menawarkan sepotong biskuit kapal kepadanya. "Silakan coba!" katanya dalam bahasa Inggris.

Dengan agak was-was orang itu mulai mencicipi. Ia mengunyah biskuit yang keras itu. Ia menjilat dengan lidahnya. Lalu ia mengunyah lagi. Sudah jelas, ia menyukai biskuit yang asin rasanya itu.

Setelah selesai, ia mengulurkan tangannya. Tetapi John Geddie baru mendapat akal. Ia tidak segera memberikan lagi kepada tetangganya itu.

"Ayo, tukar!" kata John. Dan memang mereka mulai tukar-menukar. Yang diterima John sebagai pengganti biskuit itu, bukannya barang melainkan bunyi-bunyi yang diucapkan berulang-ulang.

Dengan cepat berita itu mulai tersiar: "Orang asing yang aneh itu rela memberikan makanan yang enak, asal saja ada penduduk yang rela membuang waktu dengan berkali-kali mengucapkan kata-kata dalam bahasanya sendiri!" Maka selanjutnya John tidak pernah kekurangan penolong dalam usahanya belajar bahasa setempat.

Sepotong demi sepotong ia menawarkan biskuit kapal itu kepada penduduk setempat. Satu demi satu ia menguasai bunyi yang biasa dilafalkan dalam bahasa mereka, sampai dapat membeo setiap kata dengan tepat dan jelas.

Sementara itu, John Geddie juga sudah menyusun semacam abjad bahasa Aneityum. Ia mulai mencatat kata-kata dalam bentuk tulisan. Tidak lama kemudian, kepada para tetangganya ia dapat bercerita tentang Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga dapat bercerita tentang Yesus Kristus, yang sangat mengasihi semua orang.

Cerita-cerita yang disampaikan John Geddie itu berasal dari Kitab Injil Markus. Setiap kali bercerita, ia pun mencatat kata-kata dari ceritanya itu. Lambat laun ia dapat menyusun seluruh Injil Markus dalam bahasa Aneityum.

Penduduk pulau itu sudah mulai mengenal John Geddie; ia pun sudah semakin mengenal mereka. Mereka mulai saling mempercayai dan saling mengasihi. Oleh para tetangganya John sering dibawa serta pada waktu mereka pergi menjala ikan atau memelihara tanaman ubi ararut. Mereka memperlihatkan kepadanya bagaimana mereka menggali akar ararut, serta menyiapkan hasil tumbuhan itu untuk dijual.

Mereka juga mengajar John tentang adat mereka, tentang dongeng mereka, tentang cara mereka beribadah. Dengan panjang sabar John pun mengajar mereka tentang Tuhan Yesus Kristus. Lambat laun ada banyak di antara mereka yang menjadi orang Kristen.

Di samping mengajar, John Geddie juga masih terus menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa setempat. Setelah Kitab Injil Markus selesai, naskahnya dikirim ke Australia untuk dicetak. Ketika buku-buku kecil yang berisi Injil Markus itu sudah kembali lagi, sebagian penduduk Vanuatu merasa sangat senang: Mereka dapat membaca Firman Allah dalam bahasa mereka sendiri! Tetapi sebagian lagi merasa sangat sedih, karena mereka itu masih buta huruf.

Maka John Geddie mulai mengajar orang-orang yang buta huruf itu, agar mereka dapat membaca bahasa mereka sendiri. Sementara itu, ia pun terus mengalihkan Firman Allah ke dalam bahasa mereka. Ketika Kitab Injil Matius selesai, John berhasil membeli sebuah alat cetak kecil. Selanjutnya hasil karyanya itu dapat langsung dicetak di Vanuatu.

Akhirnya seluruh Kitab Perjanjian Baru selesai diterjemahkan ke dalam bahas Aneityum. Dengan gembira John Geddie berkata kepada kawan-kawannya, "Sekarang kita harus mencetaknya."

Tetapi Kitab Perjanjian Baru itu terlalu tebal; tak mungkin dikerjakan dengan alat cetak kecil yang sudah ada. Maka John Geddie mengumpulkan para pemimpin masyarakat setempat.

"Sekarang sudah ada Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa kalian sendiri," ia mengumumkan.

"Benar!" jawab pemimpin mereka yang tertua. "Sungguh bagus dan ajaib, bahwa hal itu sudah terwujud."

"Selanjutnya," kata John, "banyak salinan yang harus dibuat oleh mesin."

Para pemimpin masyarakat akan menunggu perkataannya lebih lanjut.

"Hal itu menuntut uang."

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

"Aku tidak punya uang," kata John dengan sedih.

"Kami juga tidak punya uang," kata para pemimpin.

Hening sejenak . . . Lalu John Geddie berbicara lagi: "Namun kalian sudah biasa menawarkan akar arurat kepada para pedagang kapal. Apakah kalian rela menyisihkan sepersepuluh dari hasil tukar-menukar itu? Apakah kalian rela menguangkan yang sepersepuluh itu, agar dapat dipakai untuk mengongkosi pencetakan Alkitab?"

Para pemimpin itu pulang dan berunding dengan rakyat. Lalu mereka melaporkan bahwa rakyat Vanuatu memang rela menyisihkan sepersepuluh dari hasil perdagangan mereka.

Setelah sepersepuluh itu diuangkan, hasilnya dua ribu dolar. John Geddie mengirimkan uang itu beserta naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Aneityum, agar dapat dicetak ditempat yang jauh.

Berbulan-bulan lamanya John dan kawan-kawannya menunggu. Lalu pada suatu hari, ada sebuah kapal yang sedang membongkar muatannya di pulau Aneityum. Di antara muatannya itu ada beberapa bungkusan besar yang dialamatkan kepada John Geddie.

Setiap keluarga di pulau itu menerima sebuah Kitab Perjanjian Baru. Namun di antara mereka masih ada yang belum pandai membaca.

"Mari kita mengadakan sayembara!" usul John. Beberapa hadiah di tawarkan kepada orang-orang yang berhasil membacakan Perjanjian Baru secara tepat dan jelas. Dengan rajin mereka bersaing untuk menjadi pandai membaca Firman Allah. Ternyata setiap hari ada sebanyak dua ribu orang Vanuatu asyik membacakan Alkitab. Dan sisa penduduk pulau itu asyik mendengarkan pembacaan mereka.

Sementara itu, John Geddie masih tetap meneruskan tugasnya sebagai guru dan penerjemah. Menjelang tahun 1872, hampir seluruh Kitab Perjanjian Lama sudah dialihkan ke dalam bahasa Aneityum.

Dua puluh empat tahun sudah lewat sejak kelasi itu menyerukan "Darat!" dari mercu tiang layar yang sedang membawa John Geddie dari jauh. Dan pada tahun yang kedua puluh empat itu juga, John Geddie pun tutup usia.

Para penduduk Vanuatu berkabung. "Ia telah meninggalkan kita," kata mereka. "Ia telah berpulang ke surga." Lalu mereka memasang sebuah plaket pada dinding gedung gereja terbesar di pulau Aneityem. Di atas plaket itu terukir kata-kata ini:

"Ketika ia mendarat pada tahun 1848,

Di sini tidak ada orang Kristen.

Ketika ia berpulang pada tahun 1872,

Di sini tidak ada orang kafir."

Selanjutnya..

Si Ceria dan Si Murung

on Sabtu, 09 Mei 2009

Seperti namanya Ceria mempunyai sifat periang, selalu gembira, dan selalu tersenyum. Sebaliknya Murung mempunyai perangai yang cemberut, selalu sedih, dan jarang tersenyum. Suatu ketika orang tua mereka berpikiran untuk membuat Si Murung tersenyum gembira dan membuat Si Ceria menjadi cemberut dan sedih. Nah orang tua mereka mulai memikiran apa yang menjadi kesenangan mereka !!! Si Cemberut yang menginjak masa ABG sedang terkena demam HP, jika pergi dengan teman-temannya sering kali ia meminjam HP milik temannya untuk menelpon. Kemudian orang tuanya membelikan dia HP supaya dia menjadi senang dan gembira.

Sewaktu cemberut pergi sekolah HP itu dibungkus oleh orang tuanya dengan kertas kado yang bagus dan diletakkan di kamarnya. Sewaktu Cemberut pulang ia segera masuk ke kamarnya, dan ia melihat ada kado di kasurnya. Dengan sigap ia cepat-cepat membuka kado itu dan ia terkejut sekali ketika di dalamnya berisi HP. Wajahnya tersenyum, tapi tidak lama. Kemudian ia murung lagi karena ia berpikiran kalau-kalau HP ini ia bawa pasti teman-temannya akan banyak yang pinjam, terus kalo rusak biayanya pasti mahal. Di ben aknya selalu muncul pikiran yang negatif, sehingga kado HP itu menjadi beban baginya. Dan yang keluar dari mulutnya adalah omelan-omelan dan umpatan, bukannya terima kasih kepada orang tuanya.Si Ceria yang senang dengan kuda, diberi oleh orang tuanya telepong kuda (kotoran kuda) dengan harapan ia menjadi cemberut dan sedih.

Telepong (kotoran kuda) yang dibungkus dengan menarik itu juga diletakkan di kamarnya. Sewaktu Ceria pulang ia juga terkejut ada kado di kamarnya. Dengan sigap ia membuka pula kado itu. Ketika dibuka bau busuk keluar dari kado itu, dan alangkah terkejutnya bahwa kado itu berisi kotoran kuda. Mukanya menjadi kebingungan sebentar. Dia berpikir, "Masa sih orang tuaku yang begitu mencintai aku memberi aku kotoran kuda, wah pasti ada sesuatu di balik hadiah ini!!!"

Setelah berpikir sebentar kemudian ia lari kepada orang tuanya dan mencium mereka. Orang tuanya sangat bingung dan terkejut kemudian bertanya, "Lho kamu itu diberi kotoran kuda kok senang sih ?".Lalu Ceria menjawab, "Papa, Mama, saya tahu kalian sangat mencintai saya, jadi tidak mungkin memberi kotoran kuda kepada saya, pasti kotoran kuda itu adalah sebuah tanda. Kalau ada kotoran kuda, berarti ada kudanya. Saya tahu bahwa kalian akan membelikan kuda pony buat saya, dan sekarang mana kudanya ???". Kemudian orang tuanya berkata, "Lho kami hanya memberi itu kepada kamu". Ceria menyahut, "Tidak mungkin saya yakin pasti ada kudanya." Akhirnya orang tuanya mengalah, dan membelikan dia kuda pony.


Orang yang hidupnya merasa sangat dicintai Tuhan akan selalu berpikir bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik dalam hidupnya, walaupun dia sedang dalam penderitaan. Sehingga orang yang hidup dalam cinta kasih Tuhan akan selalu gembira dan ceria di dalam hidupnya. Sebaliknya orang yang tidak merasa dikasihi oleh Tuhan, akan merasa bahwa hidup ini menjadi beban penderitaan yang sangat panjang. Sehingga di dalam hidupnya akan gelisah, takut dan
khawatir.

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:4-6)

Esther Lontoh

Selanjutnya..

"PEGANGLAH INI T'RUS!"

on Sabtu, 02 Mei 2009

Jimmy duduk di depan, di sisi ayahnya yang sedang menyetir mobil. "hati-hati, Jimmy," kata Ayah, "kau harus bantu Ayah lihat t'rus pada mobil Paman John yang di depan sana. Kita akan mengikuti jejaknya dari North Carolina sampai ke Indiana. Khususnya perhatikan kalau ada mobil lain yang menyelinap masuk, atau kalau mobil kita harus berhenti di stopan."

Si Jimmy senang dapat membantu ayahnya. Sudah berminggu-minggu lamanya ia mengharapkan saat keberangkatan mereka. Jimmy dengan kedua orang tuanya menaiki mobil yang satu, sedangkan Paman John dengan tiga anggota gereja menaiki mobil yang satunya lagi. Mereka akan menghadiri suatu pekan persekutuan gereja di negara bagian Indiana. Wah, betapa senangnya bepergian bersama-sama!

Tetapi pada hari pertama dalam perjalanan mereka, pada waktu sinar matahari terasa paling terik, kira-kira jam satu siang salah satu ban mobil Ayah bocor. Ayah membunyikan klakson dua kali panjang, sekali pendek, dan sekali lagi panjang. Itulah aba-aba yang telah disetujui, agar mereka di mobil yang di depan dapat segera mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan mobil yang dibelakang.

Mobil Paman John mundur pela-pelan sampai ke tempat di mana Ayah sibuk bekerja. Ia sudah mengeluarkan ban serep dan dongkrak.

"Wah, kurang mujur!" kata Paman John.

"Yah, tapi mujur juga. Terjadinya persis di sini, dibawah naungan pohon besar," balas Ayah.

Kedua bapak itu mulai bekerja sama, agar dapat lebih cepat selesai. Si Jimmy dan ibunya dan para penumpang lainnya itu menunggu di tempat yang teduh.

"Nah! Sekarang beres," kata Paman John. "Dan sekarang aku haus." Ia melihat sekeliling. Agak jauh dari jalan, kelihatan sebuah rumah kecil. Di serambi mukanya duduk seorang perempuan tua; kulitnya hitam legam dan rambutnya putih bersih. Ia duduk dengan memangku sebuah buku besar.

Paman John menunjuk ke arah perempuan tua itu. "Hei Jimmy, coba kau lari ke sana dan minta air minum," suruhnya.

Setelah si Jimmy sampai ke undak-undakan rumah, ia pun naik ke serambi. Perempuan tua itu berpaling ke arahnya tetapi tidak berkata sepatah kata pun. "Tolong, Ibu," kata Jimmy, "kami harus ganti ban yang bocor; kami semua haus. Boleh kami minta air minum di sini?"

Perempuan tua itu tersenyum. "Air minum? Wah, ada mata air yang airnya paling manis sana, di hutan, di belakang bukit kecil. Ini, Nak peganglah ini t'rus dan kau akan sampai ke sana!" Seraya menjelaskannya, perempuan tua itu meletakkan tangannya pada seutas tali kuat yang diikatkan pada tiang serambi muka. Kelihatannya tali itu terbentang di sepanjang halaman, lalu menghilang di belakang rumah.

Jimmy mengucapkan terima kasih. Lalu dengan sedikit ragu-ragu ia mulai memegang tali itu. Terus ia mengikutnya, . . . menyeberang halaman rumah, . . . masuk hutan, . . . terus mengikuti tali sampai di belakang sebuah bukit kecil. Di situ ia memang menemukan sebuah mata air. Dan benar juga, airnya manis sekali, lagi sangat dingin.

Setelah minum, Jimmy lalu kembali ke pinggir jalan dan menunjukkan tempatnya kepada orang lain. Mereka pun pergi ke sana dan minum sampai puas.

"Aku akan ke rumah ibu tua itu bersama kamu," kata Ayah kepada Jimmy. "Aku ingin menanyakan petunjuk jalan. Dan kita harus berterima kasih sekali lagi kepada ibu tua itu atas air minumnya."

Pelan-pelan mereka berdua berjalan melalui hutan kecil, lalu menyeberangi halaman rumah. "Sudah jelas orang yang tinggal di sini suka bunga," kata Ayah. "Belum pernah aku mencium sekian banyak bau wangi."

Pada saat mereka mendekati serambi muka, perempuan itu masih tetap duduk di sana. Tetapi ia tidak menoleh ke arah mereka. Rupa-rupanya matanya ditujukan ke depan, bukan arah buku besar yang sedang dipangkunya. Namun jari-jarinya bergerak dengan sangat cepat di atas halaman-halaman buku besar itu.

"Wah, dia orang buta!" Ayah berbisik kepada Jimmy. "itulah sebabnya ada tali: Untuk membimbing dia sampai ke mata air. Dan itulah sebabnya pula ia suka menanam bunga. ia tidak dapat melihatnya, namun ia dapat menikmati bau wanginya.

Rupanya pendengaran perempuan tua itu masih tajam, walau matanya buta. Ia mendengar suara bisikan itu, lalu ia berpaling ke arah Jimmy dan ayahnya. "Bagaimana Nak? Kau menemukan mata air itu? Segar rasanya pada hari yang panas terik seperti hari ini, ya?

"Memang segar, ibu, "jawab Jimmy dengan sopan. "Dan enak sekali!"

Lalu Ayah turut berbicara. "Kami berhutang budi kepada Ibu," katanya. Sejenak kemudian ia pun menambahkan: "Adakah apa-apa yang dapat kami kerjakan untuk Ibu, sebelum kami meneruskan perjalanan?"

Perempuan tua itu tersenyum. "O tidak, pak, terima kasih. Tidak usah. Kalian dapat melihat sendiri, mataku ini sudah rusak. Sejak kecil, malah. Tapi aku tidak perlu bantuan. Tidak usah!" Dan ia tertawa riang.

"Pasti ibu tidak tinggal sendirian di sini!" cetus Ayah.

"Sendirian! Dan aku suka tinggal di sini!" jawab perempuan tua itu sambil tertawa lagi. "Putraku, dia yang pasang tali-tali untukku. Tali ini, sampai ke mata air. Tali sana, sampai ke kandang ayam. Tali lain lagi, sampai ke pohon buah. Dan ada juga tali, sampai ke kebun sayur. Kalau di dalam rumah, tidak usah pakai tali segala, sebab aku dapat meraba-raba dan berjalan-jalan ke mana-mana."

Sekali lagi ia tersenyum ke arah Jimmy dan ayahnya, walau ia tidak dapat melihat mereka. "Aku hanya pegang tali-taliku t'rus," katanya lagi. Lalu ia pun mengangkat buku besar yang ada di pangkuannya itu. "Kalian tahu, ini apa?"

"Aku tahu itu sebuah buku Braille, yang dicetak dengan huruf-huruf timbul yang dapat diraba oleh jari-jari," jawab Ayah. "Dan kalau tidak salah, buku itu Alkitab."

"Betul! Betul!" kata perempuan berkulit hitam itu dengan nada suara yang gembira. "Nah, dengarlah, kalian, pada nasihat seorang yang sudah tua: Tadi kalian memegang taliku t'rus dan kalian sampai ke mata air. Nah, peganglah Alkitab ini t'rus, dan kalian akan sampai ke surga!"

"Benar, Ibu," kata Ayah.

Prempuan tua itu meletakkan tangannya yang berkeriput itu pada tali yang menuju mata air. "Peganglah ini t'rus mendapat air minum," katanya. Lalu ia menjamah tali yang menuju ke kebun. "Peganglah ini t'rus, mendapat makanan." Kemudian dengan penuh rasa kasih dan khidmat ia meletakkan tangannya pada Alkitabnya yang besar. "Peganglah ini t'rus, mendapat Tuhan Allah. Dan inilah taliku yang paling penting!"

"Benar," kata Ayah lagi. "Ibu, kalau aku, aku tidak usah memegang tali-tali seperti Ibu. Namun aku berusaha terus memegang ajaran-ajaran Alkitab. Sama halnya dengan anakku ini, juga sama dengan yang lainnya yang sedang bepergian bersama-sama dengan kami."

"Bagus! Bagus!" kata perempuan tua itu sambil tersenyum lebih lebar lagi.

Ayah Jimmy masih mengobrol sebentar lagi dengan perempuan tua itu. Lalu Paman John membunyikan klakson dari pinggir jalan, dan mereka harus pergi. Ternyata Ayah sama sekali lupa menanyakan petunjuk jalan.

Perempuan tua itu berdiri di serambi mukanya pada saat mereka berpamitan. Wajahnya dipalingkan ke arah bunyi derap kaki mereka. Ia menunggu sampai ia mendengar kedua mesin mobil itu dihidupkan kembali, lalu ia pun berseru lagi dengan suara keras: "Peganglah ini t'rus, hai kalian! Yah, selalu peganglah ini t'rus!" dan dengan kedua belah tangannya ia mengangkat Alkitabnya yang besar itu.

Si Jimmy menoleh kepada ayahnya; mukanya memeperlihatkan rasa heran. "Rupanya ia tidak sedih, Ayah walau matanya buta," kata Jimmy.

"Memang ia tidak sedih, Jimmy," Ayah menyetujui. "Ia sudah belajar sesuatu yang sering dilalaikan orang-orang lain yang punya mata tajam, Ibu tadi sudah tahu, kita harus berpegang terus pada apa yang paling penting."

Kedua mobil itu terus melaju naik bukit, turun ke lembah. Dan dengan irama ban-bannya yang berputar-putar terus, si Jimmy seolah-olah dapat mendengar lagi seruan perempuan tua yang berkulit hitam itu:

"Peganglah itu t'rus, hai kalian! Yah, selalu peganglah ini t'rus!"

(Amerika Serikat, abad ke-20)

Selanjutnya..