Selamat Datang!!!

Admin - Selamat datang di blog PMK STAN Angkatan '05

Selamat menikmati isi dari blog ini

Semoga dapat menjadi berkat bagi kita semuanya

dan mampu menjadi media komunikasi yang efektif

"Kamu sangat berarti

Istimewa dihati

Selamanya rasa ini

Jika tua nanti

Kita tlah hidup masing-masing

Ingatlah hari ini"

PABRIK FIRMAN HIDUP DI TEPI SUNGAI GANGGA

on Sabtu, 09 Mei 2009

(India, 1800 - 1832)

Siapa yang tidak tahu tentang Sungai Gangga yang dianggap suci itu?

Siapa yang tidak tahu tentang kota besar Calcutta, yang terletak di India, di tepi salah satu muara Sungai Gangga?

Kota besar itu diberi nama menurut nama dewi Kali, dewi maut dalam bahasa aslinya, Kalikata, atau Kota Kali. Setahun sekali penduduk Calcutta merayakan Kali Puja; di mana-mana terlihat patung dewi itu, dengan muka hitam, lidah merah, dan berlengan sepuluh. Patung-patung itu didirikan di bawah naungan pondok-pondok khusus, tempat persembahan sajian. Menjelang akhir masa Kali Puja, setiap patung sang dewi dihiasi bunga dan dibuang ke dalam "air suci" Sungai Gangga.

Dua ratus tahun yang lalu, ada yang lain lagi yang juga dibuang ke dalam Sungai Gangga: Ada anak-anak kecil, yang dipersembahkan kepada dewa "air suci", dengan membiarkan mereka mati lemas atau dimakan buaya. Dan di sepanjang tepi Sungai Gangga, ada banyak tempat untuk membakar hidup-hidup para janda, bersama-sama dengan jenazah almarhum suami mereka.

Jika dengan perahu dayung kita mengadakan perjalanan dari kota besar Calcutta ke sebelah utara hanya satu setangah jam, kita akan tiba di sebuah kota kecil; namanya, Serampore. Di sana pernah ada sebuah "Pabrik Firman Hidup di Tepi Sungai Gangga." Hasil produksinya meluas ke seluruh India, bahkan ke negeri-negeri lain (termasuk pulau Jawa). Dan ke mana-mana produk "pabrik" itu membawa berita hidup, bukan berita maut.Walau persentase orang India yang percaya sepenuhnya akan berita Firman Hidup itu agak kecil, namun beritanya membawa pengaruh besar terhadap cara hidup rakyat di seluruh India. Lambat laun setiap adat dan kebiasaan yang membawa maut itu terkikis habis. Sekarang anak-anak kecil tidak lagi dibuang ke dalam Sungai Gangga. Janda-janda juga tidak lagi dibakar hidup-hidup di sepanjang tepinya.

Istilah "Pabrik Firman Hidup" itu sengaja dipakai di sini. Ada banyak orang Kristen yang pernah menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa yang baru. Juga ada banyak orang Kristen yang rajin menerbitkan terjemahan Alkitab yang baru, serta rajin mengedarkannya ke mana-mana. Namun sepanjang sejarah kekristenan, hanya satu kali saja ada usaha yang disengaja untuk menghasilkan terjemahan Alkitab secara borongan.

Selama tahun-tahun 1800-1832, "pabrik" di Serampore itu memproduksikan:

+ seluruh Alkitab dalam enam bahasa yang berbeda-beda, dan

+ seluruh Kitab Perjanjian Baru, atau bagian-bagian lain dari Alkitab, dalam 38 bahasa yang lain.

Bukankah pusat penerbitan Kristen di Serampore itu pantas disebut: "Pabrik Firman Hidup di Tepi Sungai Gangga"?

Bagaimanakah hal itu dapat terjadi? Siapakah orang-orang yang mendirikan dan menjalankan "pabrik" itu?

Kisahnya dimulai di suatu tempat yang amat jauh dari tepi Sungai Gangga, . . . di sebuah desa kecil di negeri Inggris.

Di sebuah bengkel tukang sepatu duduklah seorang rakyat biasa bernama William Carey. Sepanjang minggu orang Inggris yang sederhana itu bekerja keras, membuat dan menambal sepatu. Lalu pada setiap hari Minggu, ia mengkhotbahkan Firman Hidup di gereja desa. Jemaat Baptis kecil yang digembalakannya itu tidak sanggup mengongkosi dia dan keluarganya; jadi, ia harus bekerja sambilan.

Pendidikan William Carey mula-mula sangat kurang. Tetapi atas usahanya sendiri dengan gigih ia mencari ilmu. Sering ia bekerja di bengkel tukang sepatu dengan sebuah buku di sampingnya. Tanpa guru, tanpa kuliah, ia belajar bahasa-bahasa asli Alkitab, juga beberapa bahasa modern. Bahkan ia membuat sebuah peta dunia dari kulit binatang yang biasa dipakainya untuk membuat sepatu. Di atas petanya itu, ia menunjukkan bangsa-bangsa yang belum mendengar Firman Hidup tentang Tuhan Yesus.

Lambat laun Pendeta Carey berhasil membujuk saudara-saudara seimannya bahwa Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20 itu masih berlaku sepanjang abad, dan di seluruh dunia. Akhirnya pada tahun 1792 umat Baptis di Inggris mengumpulkan dana secukupnya sehingga mereka dapat mengutus William Carey dan keluarganya ke negeri India. Mereka berjanji akan terus menyokong usaha penginjilan itu, dengan mempersembahkan uang dan mencari calon utusan Injil.

Menjelang akhir tahun 1793, William Carey dan keluarganya tiba dengan selamat di kota besar Calcutta. Maka mulailah karirnya yang gemilang, yang kemudian memberikan julukan kepada Carey: "Bapak Gerakan Pengutusan Injil pada Zaman Modern."

Namun pada mulanya, kehidupan keluarga Carey di India itu sulit sekali. Ibu Carey sakit-sakitan, baik jasmani maupun jiwanya. Uang yang mereka bawa dari Inggris itu ternyata tidak mencukupi. Dan salah seorang anak laki-laki mereka yang tercinta meninggal ketika masih muda, akibat demam yang tak terobati lagi.

Tambahan pula, kehadiran mereka di India jelas tidak diingini. Bukan hanya orang-orang India sendiri yang tidak mau tahu tentang berita Firman Hidup: Kaum penjajah Inggris juga tidak menyetujui adanya utusan Injil di daerah yang mereka kuasai.

Selama beberapa tahun Pendeta Carey dan keluarganya dapat menghindarkan diri dari tindakan pengusiran. Mereka sering berpindah-pindah tempat makin lama makin jauh ke pedalaman, menelusuri sungai Gangga. Tetapi akhirnya William Carey terpojokkan oleh pihak yang berwajib, dan diberi dua pilihan: Pulang saja, atau mulai bekerja di bawah naungan pemerintah penjajahan sebagai pengurus pabrik nila.

William Carey rela saja menjadi pengurus pabrik nila: Bukankah sejak semula keluarganya kekurangan uang? Di samping itu, ia dapat berkenalan dengan para kuli yang bekerja di bawah pengawasannya, serta berusaha agar dapat menyampaikan Firman Hidup tentang kasih Kristus kepada mereka.

Di tengah-tengah segala kesibukan dan kesulitan yang dihadapi William Carey di negeri India itu, ada satu tugas utama yang tekun dikerjakannya, yakni: Ia sedang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bangla, bahasa sehari-hari penduduk daerah Benggala di India Timur itu.

Pada tahun 1797, Pendeta Carey sudah hampir menyelesaikan terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Bangla. Seorang dermawan memberi sumbangan berupa uang untuk membeli sebuah mesin cetak bekas. Mesin tua yang terbuat dari kayu itu sudah dibongkar. Dengan susah payah Carey merakitkan kembali. Ia menghabiskan sekian banyak waktu untuk mengurus mesin cetak itu sehingga kuli-kuli pabrik nila mulai berkata, "Nah, inilah dia, patung berhala orang kulit putih!"

Pemerintah penjajah mendengar berita bahwa Pendeta Carey sudah mempunyai sebuah mesin cetak. Mereka melarang dia menggunakannya untuk menerbitkan terjemahan Alkitab: Jangan-jangan orang-orang India menjadi sadar bahwa berita Firman Hidup itu diperuntukkan bagi mereka juga, mungkin akan timbul kerusuhan!

William Carey merasa sangat bingung. Haruskan dia menghentikan proyek penerjemahannya itu? Haruskah dia meninggalkan pekerjaannya sebagai pengurus pabrik nila? Bila ia meninggalkan pekerjaannya itu, bagaimana ia dapat membiayai keluarganya?

Pada hari-hari yang amat membingungkan itu, Carey menerima sepucuk surat dari tanah airnya. Bunyinya kira-kira sebagai berikut: "Pendeta Carey yang baik,

Mungkin Bapak sudah tidak ingat lagi: Pada suatu hari Minggu, beberapa waktu sebelum Bapak sekeluarga berangkat dari negeri Inggris, Bapak sempat berjalan kaki dari gereja ke rumah sambil bercakap-cakap dengan seorang pemuda tentang rencana Bapak untuk perrgi ke negeri India.

Akulah pemuda itu! Waktu itu aku menjelaskan, `Aku bukan seorang pendeta atau penginjil atau pun guru, cuma seorang tukang cetak saja.'

Lalu Bapak berkata, `Nanti di India kami pasti memerlukan seorang yang seperti kamu , untuk mencetak terjemahan Alkitab yang akan dikerjakan di sana.

Sekarang, apa yang Bapak harapkan itu telah menjadi kenyataan. Aku dengan beberapa rekan sepanggilanku sedang mengikuti jejak Bapak. Sebentar lagi kapal layar kami akan mendarat di kota Calcutta. Niat hatiku ialah, untuk hidup dan mati bersama-sama dengan Bapak."

William Carey sungguh berbesar hati sewaktu membaca surat itu! Dan hanya beberapa hari kemudian, ia pun sempat bertemu kembali dengan penulis suratnya: Seorang pemuda Inggris bernama William Ward. Setelah turun dari kapal laut di Calcutta, pemuda itu langsung naik ke kapal sungai. Lalu ia menelusuri Sungai Gangga jauh ke pedalaman, ke tempat pabrik nila yang sedang diurus oleh William Carey.

William Ward membawa berita tentang suatu undangan yang tak terduga. Hanya 25 kilometer di sebelah utara kota Calcutta terletak daerah penjajahan Denmark, kota kecil Serampore. Rupa-rupanya sikap pemerintah Denmark terhadap penginjilan itu jauh lebih terbuka daripada sikap pemerintah Inggris. Buktinya, gubernur daerah penjajahan Denmark itu telah mengundang semua utusan Injil Baptis dari Inggris agar menetap di bawah naungannya di Serampore.

Persis pada waktu pergantian tahun dan juga pergantian abad, William Carey dan keluarganya naik kapal sungai. Mereka menelusuri Sungai Gangga jauh ke hilir, dengan membawa serta "patung berhala orang kulit putih" (mesin cetak itu yang sudah dibongkar lagi). Mendaratlah mereka di Serampore pada tanggal 10 Januari 1800.

Di sana mereka segera bergabung dengan rekan-rekan sepanggilan mereka yang baru tiba dari Inggris. Mula-mula mereka semua tinggal serumah. Mereka makan bersama, bekerja bersama, dan berdoa bersama. Dan dengan segera berdirilah "Pabrik Firman Hidup di Tepi Sungai Gangga" itu.

Tentu saja ada banyak orang, baik bangsa India maupun bangsa asing, yang bekerja di "pabrik" itu. Namun ada tiga orang khusus yang menjalankan usaha penyediaan terjemahan Alkitab secara besar-besaran itu. Selain William Carey dan William Ward, ada juga seorang penginjil dan guru bernama Joshua Marshman. Selama berpuluh-puluh tahun, mereka bertiga bekerjasama dengan cara yang begitu luar biasa sehingga mereka diberi julukan: "Trio Serampore."

Pendeta Marshman beserta istrinya, Ibu Hannah, segera membuka dua sekolah swasta untuk anak-anak keturunan Eropa. Pemasukan uang dari kedua sekolah itu dapat menutup biaya hidup mereka semua. William Carey meneruskan pekerjaannya sebagai penerjemah utama. William Ward mulai mendirikan bengkel percetakan. Mereka semua rajin memberitakan Firman Hidup kepada orang-orang India yang tinggal di sekitar Serampore. Dan hasil nyata dari pelayanan mereka itu segera mulai terwujud.

Pada bulan Desember tahun 1800, untuk pertama kalinya ada seorang India yang rela masuk ke dalam "air suci" Sungai Gangga untuk dibaptiskan dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Dan pada bulan Februari tahun 1801, sudah ada Kitab Perjanjian Baru yang dicetak dalam bahasa Bangla. William Ward menaruh eksemplar pertamanya dari Kitab Suci itu di atas meja Perjamuan Tuhan di ruang kebaktian. Di situ semua orang Kristen baik orang Timur maupun orang Barat berkumpul mengadakan kebaktian pengucapan syukur.

Sudah bertahun-tahun lamanya William Carey bekerja keras, baru ada satu Kitab Perjanjian Baru saja di antara sekian banyak bahasa orang India. Ia telah menghabiskan banyak waktu dalam mempersoalkan seluk-beluk bahasa dengan para pandit, atau sarjana bahasa Bangla. Namun tidak jarang ia menemukan istilah-istilah yang paling tepat dari obrolan kuli-kuli yang bekerja di pabrik, atau dari anak laki-lakinya sendiri, yang dibesarkan dengan menyeloteh dalam dua bahasa sekaligus.

Sukses William Carey dalam menguasai bahasa Bangla itu dapat dinilai berdasarkan suatu kejadian yang tak tersangka sama sekali. Pemerintah penjajahan Inggris, yang semula hendak memojokkan dan mengusir Carey, mulai menyadari bahwa di daerah penguasaan mereka ada seorang sebangsa mereka yang sangat pandai dalam bahasa setempat. Maka mereka mengundang William Carey untuk menjadi dosen luar biasa di sebuah perguruan tinggi yang mereka dirikan di kota Calcutta. Di situ mereka hendak mendidik para pemuda yang kelak akan mengisi jabatan tinggi untuk seluruh India.

Selama tiga puluh tahun, setiap minggu William Carey turun ke tepi Sungai Gangga di Serampore dan duduk di sebuah perahu kecil, yang kemudian didayungkan sampai ke Calcutta. Di kota itu ia menyampaikan kuliah bahasa Bangla (dan kemudian, kuliah bahasa-bahasa lain pula) kepada para calon pegawai negeri, baik sipil maupun militer.

Honorarium yang diterimanya, langsung diserahkan kepada rekan-rekan sekerjanya, untuk menutup biaya hidup serta biaya menjalankan "Pabrik Firman Hidup" itu. Tetapi kedudukannya sebagai dosen perguruan tinggi negeri itu juga membawa efek sampingan yang lebih berharga daripada uang: Selama tiga puluh tahun, William Carey sempat turut membentuk alam pikiran para pemuda yang kelak keputusannya akan mempengaruhi cara hidup seluruh rakyat India. Itulah sebabnya ia dapat memperjuangkan larangan membuang anak-anak kecil ke dalam Sungai Gangga. Itu pulalah sebabnya ia dapat memberantas kebiasaan membakar hidup-hidup para janda.

Namun Pendeta Carey belum merasa puas. Perjanjian Baru bahasa Bangla hasil karyanya itu memang banyak dibaca orang-orang India, tetapi hanya dari kasta menengah ke bawah. Orang-orang India yang berstatus tinggi tidak mau tahu tentang terbitan apa pun dalam bahasa rakyat, bahasa sehari-hari. "Jika sungguh penting," demikianlah pendapat mereka, "pasti Shostro [sastra] yang baru itu akan disajikan dalam bahasa Sansekerta, bahasa kesarjanaan."

Baiklah! William Carey mulai lagi bekerja keras dengan para pandit. Dalam tempo sepuluh tahun ia dapat menghasilkan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Sansekerta pula. Sepuluh tahun lagi, dan akhirnya menyusul seluruh Alkitab yang diterbitkan dalam bahasa tinggi itu. Baru kemudian kaum atasan dan kaum cendekiawan rela membaca Shostro itu. Dan ada juga efek sampingan yang tak terduga:

Pada suatu hari William Carey sedang melihat-lihat tulisan dalam beberapa bahasa India yang masih asing baginya bahasa Oriya dari sebelah Selatan, bahasa Marathi dari daerah di sekitar kota Bombay, bahasa Gujarati dari sebelah Barat. Tiba-tiba ia berseru: "Wah! Aku dapat membaca semua bahasa ini!"

Joshua Marshman dan William Ward kaget mendengar seruan rekan sekerja mereka. Dengan cepat mereka datang untuk mendengarkan penjelasan William Carey: "Begini, kawan-kawan: Akar kata dari kebanyakan istilah dalam setiap bahasa daerah ini adalah kata-kata dalam bahasa Sansekerta! Kita sudah punya kunci untuk dapat menerjemahkan Alkitab ke dalam setiap bahasa daerah di seluruh India!"

Malam itu juga, William Carey menulis sepucuk surat ke negeri Inggris. Ia belum pernah membujuk teman-temannya yang di sana untuk menyumbangkan lebih banyak uang demi keperluan dirinya sendiri. Tetapi ia rela saja meminta sumbangan khusus demi proyek produksi Sabda Allah secara besar-besaran. "Berilah kami uang secukupnya," begitulah ia menghimbau dalam suratnya malam itu, "dan dalam waktu kira-kira lima belas tahun saja, kami dapat menghasilkan Firman Hidup dalam semua bahasa di seluruh belahan Timur!"

Hebat sekali tanggapan terhadap imbauan William Carey itu! Bukan hanya dari Inggris Raya, tetapi juga dari Amerika Serikat, banyak yang yang masuk dari umat Kristen yang berjiwa penginjilan. Dan hasil produksi "Pabrik Firman Hidup di Tepi Sungai Gangga" itu makin lama makin meluas.

Sungguh luar biasa jumlah bahasa yang dapat dipakai oleh William Carey dan rekan-rekan sekerjanya itu! Silakan membaca satu halaman saja dari buku harian Pendeta Carey bulan Juni, tahun 1806:

5.45 -- Saat Teduh; membaca satu pasal dari Kitab Perjanjian

Lama dalam bahasa aslinya, bahasa Ibrani.

7.00 -- Doa pagi dalam bahasa Bangla dengan para pembantu

rumah tangga.

8.00 -- Belajar bahasa Marathi dengan seorang guru bahasa.

9.00 -- Bekerja sama dengan Pendeta Marshman, membuat

terjemahan dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Inggris.

10.00 -- Pergi ke Calcutta untuk menyampaikan kuliah di

perguruan tinggi negeri dalam jurusan bahasa (bahasa

Bangla, bahasa Sansekerta, bahasa Marathi)

14.00 -- Pulang kembali ke Serampore.

15.00 -- Mengoreksi halaman-halaman uji coba dari hasil

cetakan terjemahan Kitab Nabi Yeremia dalam

bahasa Bangla.

17.00 -- Bekerja sama dengan seorang pandit untuk

menerjemahkan Kitab Injil Matius pasal 8 ke

dalam bahasa Sansekerta.

18.00 -- Belajar bahasa Telugu dengan seorang guru bahasa.

19.30 -- Menyampaikan Firman Tuhan dalam bahasa Inggris, pada

kebaktian tengah minggu untuk para petugas

pemerintah setempat dengan keluarganya

masing-masing.

21.00 -- Menerjemahkan Kitab Nabi Yehezkiel pasal 9 ke

dalam bahasa Bangla.

22.00 -- Menulis surat kepada seorang teman di negeri Inggris.

23.00 -- Saat Teduh; membaca satu pasal dari Kitab Perjanjian

Baru dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani.

Pada bulan Maret tahun 1813, William Carey dapat melaporkan kepada para penyokongnya di negeri Inggris bahwa sebagian dari Alkitab, atau bahkan keseluruhannya, telah diterjemahkan ke dalam sebanyak sepuluh bahasa. Lagi pula, semua terjemahan itu sedang dalam proses penerbitan. Sungguh, "Pabrik Firman Hidup di Tepi Sungai Gangga" itu sedang berjalan dengan baik!

Hanya beberapa hari kemudian, pada malam 11 Maret 1813, William Ward sedang duduk menghadap meja tulisnya di "pabrik" itu. Para karyawan sudah pulang untuk beristirahat. Tiba-tiba Ward mencium bau yang aneh. Cepat-cepat ia berdiri dan membuka pintu yang menuju ke gudang kertas. Asap mengepul keluar!"

Ward membanting pintu itu dan berteriak: "Kebakaran! Kebakaran! Ayo tolong, ada kebakaran!"

Yang mula-mula memperhatikan teriakannya itu adalah beberapa pembantu rumah tangga. Mereka membangunkan Joshua Marshman, yang tempat tinggalnya dekat pabrik.

"Cepat! Semua pintu dan jendela harus ditutup rapat!" perintah William Ward. Ia tahu bahwa jika api itu tidak diberi udara, ia akan mati sendiri.

Dengan cepat Ward dan Marshman menutup semua pintu dan jendela pusat penerbitan itu. Mereka menyuruh para penbantu berlari ke tepi Sungai Gangga dan mengisi tempayan dengan air sebanyak mungkin. Ward memanjat ke atap gudang kertas. Ia membongkar atapnya, agar dapat menuangkan berturut-turut isi setiap tempayan air itu ke atas tumpukan kertas yang sudah gosong namun belum menyala.

Selama empat jam mereka semua membanting tulang. Rupa-rupanya masih ada harapan mengalahkan si jago merah. Tetapi ada seorang pembantu rumah tangga yang tidak begitu mengerti hukum ilmu fisika. Ia membuka lagi jendela tingkat bawah, agar dapat memasukkan air dari situ.

Sekonyong-konyong api itu membumbung tinggi! Bukan hanya tumpukan kertas saja yang terbakar: Kaleng-kaleng berisi lemak yang dipakai untuk melumas mesin-mesin cetak ikut berkobar juga.

William Ward baru sadar. "Wah, mesin-mesin cetak itu!" teriaknya. Dengan susah payah ia dan Marshman menyeret ke luar lima mesin cetak. Tetapi ruang zeting terkunci. Sebelum pintu dapat dibuka, semua naskah berharga yang bertumpuk-tumpuk di sana telah ikut hangus menjadi abu.

Keesokan paginya William Carey pulang ke Serampore dari kota Calcutta. Apa yang dilihatnya? Hanya reruntuhan hitam belaka, sisa "Pabrik Firman Hidup di Tepi Sungai Gangga" itu. Leburan logam seberat tiga ton, naskah-naskah terjemahan Alkitab, dua naskah buku kaidah bahasa, sebuah naskah kamus antar bahasa semuanya itu tertimbun dalam puing-puing yang digenangi air. Kerja keras banyak orang selama tiga tahun itu telah hilang musnah dalam waktu semalam saja.

Apa yang dilakukan kemudian oleh "Trio Serampore" itu? Apa yang mereka katakan?

Ini: "Sesuai dengan Sabda Allah dalam 2Korintus 4:9, `kami dihempaskan, namun tidak binasa.' Jika kita menempuh jalan kedua kalinya, perjalanan kita itu lebih mudah dan lebih mantap. Terjemahan-terjemahan yang sudah hilang itu akan diganti dengan terjemahan-terjemahan baru yang lebih baik."

Koran-koran di kota Calcutta memuat berita musibah itu dengan memuji-muji segala usaha Carey, Marshman, dan Ward. Dalam tempo tujuh minggu saja, umat Kristen di Inggris menyumbangkan uang secukupnya untuk membangun kembali pusat penerbitan itu dengan segala perlengkapannya. Menjelang akhir tahun 1813, "Pabrik Firman Hidup di Tepi Sungai Gangga" itu sudah kembali berjalan, bahkan dengan cara dua kali lebih efisien daripada sebelumnya.

Anehnya, . . . yang paling awal dipanggil Tuhan adalah yang paling muda di antara "Trio Serampore" itu. Pada tahun 1823, William Carey dan Joshua Marshman menangis di sisi tempat tidur William Ward, yang meninggal secara mendadak sebagai korban wabah penyakit kolera.

Namun Ward sempat lebih dahulu melatih beberapa tukang cetak lainnya. Jadi, ketika seorang bapak dengan kedua putranya tiba dari pulau Jawa pada tahun 1828, di Serampore masih ada kawan-kawan sekerja yang dapat menolong dia. Ia datang justru karena pemerintah penjajahan Belanda di Nusantara, sama seperti pemerintahan penjajahan Inggris di India, tidak begitu setuju dengan peredaran Alkitab dalam bahasa setempat. Maka Kitab Perjanjian Baru yang pertama-tama dalam bahasa Jawa dicetak sebanyak tiga ribu eksemplarnya oleh "Pabrik Firman Hidup di Tepi Sungai Gangga."

(Sisa cerita yang mengharukan itu dapat dibaca dalam Jilid 2 buku seri ini, dengan judul "Penerjemah Perjanjian Baru yang Paling Gigih.")

William Carey meninggal pada tahun 1834; Joshua Marshman menyusul pada tahun 1837. Memang ada orang-orang lain yang masih dapat meneruskan pelayanan mereka. Namun usaha mereka untuk menyediakan Alkitab dalam berbagai-bagai bahasa itu praktisnya sudah selesai pada tahun 1832, ketika Carey menerbitkan revisinya yang kedelapan dari Kitab Perjanjian Baru bahasa Bangla.

Ternyata tugas itu memakan waktu jauh lebih lama daripada "kurang lebih lima belas tahun" yang pernah mereka taksir. Ternyata pula jumlah bahasa yang berbeda-beda "di seluruh belahan Timur" itu jauh melebihi dugaan mereka semula. Namun prestasi yang dicapai selama 32 tahun di Serampore itu tidak ada tandingannya sepanjang sejarah kekristenan.

Pada saat William Carey meninggal, semua bendera berkibar setengah tiang di seluruh daerah Benggala. Pemerintah penjajahan, yang semula menghina dan melawan Carey, akhirnya menghormati saat pemakamannya, seolah-olah ada jenazah seorang raja yang sedang dikebumikan.

Jadi, "Trio Serampore" itu sudah tidak ada. "Pabrik Firman Hidup di Tepi Sungai Gangga" yang mereka usahakan itu pun tidak ada lagi. Tetapi Firman Hidup itu sendiri masih ada! Beritanya masih dibawa ke mana-mana oleh putra-putri bangsa India yang setia mengikuti Tuhan Yesus. Dan pengaruhnya terhadap cara hidup umat manusia itu masih kuat di seluruh India, dan di seluruh dunia.

Selanjutnya..

ALKITAB YANG BUNGKAM DALAM BAHASA NUSANTARA

Berabad-abad lamanya, Alkitab merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di seluruh dunia.

Ada tiga alasan yang menjadi penghalang sehingga isi Firman Allah itu umumnya tidak dikenal oleh orang-orang biasa.

Mula-mula, pada zaman dahulu hanya ada satu cara untuk memperbanyak salinan-salinan Alkitab: dengan tulisan tangan. Jadi, salinan-salinan Alkitab itu sangat langka dan sangat mahal harganya.

Juga, kebanyakan pemimpin umat Kristen pada zaman dahulu berpendapat bahwa jika orang-orang biasa diizinkan membaca Alkitab sendiri, pasti akan timbul banyak tafsiran yang salah. Jadi (menurut pikiran mereka), lebih baik jika hak istimewa untuk memiliki Alkitab itu dimonopoli saja oleh para rohaniawan.

Alasan ketiga ialah, kebanyakan Alkitab pada zaman dahulu masih ditulis dalam bahasa-bahasa kuno. Jadi, kebanyakan orang tidak dapat membacanya, pun tidak dapat mengerti isinya jika dibacakan oleh orang lain.

Mulai pada abad yang ke-15 dan ke-16, ketiga alasan yang menjadi penghalang itu berturut-turut dihapus.

Pertama-tama, seni cetak ditemukan oleh orang-orang Barat (walau pada hakikatnya orang-orang Timur sudah lebih dahulu menemukannya!). Buku lengkap yang pertama-tama dicetak ialah: Alkitab. Maka salinan-salinan Alkitab menjadi jauh lebih mudah diperoleh.

Kemudian timbul Reformasi Protestan di benua Eropa. Gerakan pembaharuan gereja itu menekankan bahwa tiap orang bertanggung jawab kepada Allah atas keadaan rohaninya. Jadi, belum cukuplah jika ia mendengar tafsiran Alkitab yang diberikan oleh orang lain; ia harus dapat mempunyai Alkitab sendiri, serta harus dapat mengerti isinya.

Tentu saja, untuk dapat mencapai maksud tadi, Alkitab harus diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang biasa dipakai oleh kebanyakan orang. Dan justru itulah yang berlangsung di seluruh dunia, mulai pada abad yang ke-16.

Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di Nusantara. Memang sudah ada orang-orang Kristen di sini: Kaum Kristen Nestorian mulai datang ke kepulauan Indonesia pada abad yang ke-12, dan kaum Kristen Katolik mulai datang pada abad yang ke-14. Tetapi Alkitab-Alkitab yang mereka bawa itu tertulis dalam bahasa-bahasa asing, yang sulit dipahami oleh putra-putri Nusantara.

Ada juga halangan khusus di Nusantara yang mencegah orang mempunyai dan membaca Alkitab, yakni: Orang-orang yang tinggal di berbagai-bagai pulau itu berbicara dalam berbagai-bagai bahasa pula. Jika seorang pelaut pergi berlayar di Nusantara, belum tentu ia dapat bercakap-cakap dengan orang-orang di pulau tempat tujuannya.

Namun ada juga bahasa-bahasa yang umumnya dipakai kalau putra-putri Nusantara pergi ke pasar atau berdagang di pelabuhan. Salah satu bahasa perniagaan itu ialah bahasa Portugis; tetapi yang lebih umum lagi ialah, bahasa Melayu (yang sesungguhnya merupakan nenek moyang bahasa Indonesia).

Anehnya, Alkitab mula-mula diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, bukan di negeri Portugis sendiri, melainkan di Nusantara!

Pada pertengahan abad yang ke-17, seorang anak laki-laki kecil dibawa dari Portugis ke kota Malaka, di semenanjung Melayu. Ketika ia masih berumur belasan tahun, bocah itu mulai percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya. Dan pada umur yang masih sangat muda, mulailah dia menerjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa ibunya. Kemudian, tatkala ia pindah dari Malaka ke Jakarta, ia sempat menyelesaikan terjemahannya itu. Ia juga menerjemahkan sebagian besar dari Kitab Perjanjian Lama.

Tetapi lambat laun penjajah bangsa Portugis itu diusir dari seluruh Nusantara oleh penjajah bangsa Belanda. Karena itu makin lama makin sedikit orang yang menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa perdagangan antar pulau. Dan Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di kepalauan Indonesia.

Anehnya, orang-orang yang mula-mula insaf bahwa Firman Allah seharusnya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu bukannya para pendeta dan penginjil, melainkan para pelaut dan pedagang. Pada permulaan abad yang ke-17, seorang pelaut Belanda bernama Houtman ditangkap dan dipenjarakan oleh suku Aceh yang pada waktu itu terkenal cukup garang. Selama ditahan di Sumatera Utara, orang Belanda itu sempat belajar bahasa Melayu. Setelah dibebaskan, mulai pada tahun 1605 ia menerbitkan beberapa tulisan Kristen yangg sudah diterjemahkannya ke dalam bahasa Melayu.

Sementara itu, seorang pedagang bernama Albert Cornelisz Ruyl berlayar dari Belanda ke Indonesia pada tahun 1600. Ia menyadari bahwa Alkitab perlu dibaca oleh putra-putri Nusantara. Bahkan ia membujuk rekan-rekan sekerjanya sampai mereka rela membayar semua ongkos penerbitan untuk proyek terjemahannya itu. Pada tahun 1612 Ruyl sudah selesai mengalihbahasakan seluruh Kitab Injil Matius ke dalam bahasa Melayu. Tetapi baru tujuh belas tahun kemudian, hasil karyanya itu dicetak.

Dalam bahasa Melayu terjemahan Ruyl, Doa Bapa Kami (dari Matius 6:9-13) berbunyi sebagai berikut:

"Bappa kita, jang adda de surga:

Namma mou jadi bersakti.

Radjat-mu mendatang

kandhatimu menjadi

de bumi seperti de surga

Roti kita derri sa hari-hari membrikan kita sa hari inila.

Makka ber-ampunla pada-kita doosa kita,

seperti kita ber-ampun

akan siapa ber-sala kepada kita.

D'jang-an hentar kita kepada tjobahan,

tetapi lepasken kita dari jang d'jakat."

Hanya sebagian saja dari Alkitab yang sempat diterjemahkan oleh A. C. Ruyl, pedagang Belanda tadi. Lagi pula, bahasa Melayu yang dipakainya itu sangat jelek. Misalnya, ia belum mengerti perbedaan antara "kita" dengan "kami."

Kemudian, pada pertengahan abad yang ke-17, ada seorang pendeta Belanda bernama Daniel Brouwerius yang mulai insaf bahwa Alkitab mmasih merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan putra-putri Nusantara. Ia pindah ke kepulauan Indonesia dan berhasil menerjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Melayu.

Dalam terjemahan Daniel Bruwerius, yang mula-mula diterbitkan pada tahun 1668, Doa Bapa Kami berbunyi sebagai berikut:

"Bappa cami, jang adda de Surga,

Namma-mou jaddi bersacti.

Radjat-mou datang.

Candati-mou jaddi

bagitou de boumi bagaimana de surga.

Roti cami derri sa hari hari bri hari ini pada cami

Lagi ampon doossa cami,

bagaimana cami ampon

capada orang jang salla pada cami.

Lagi jangan antarrken cami de dalam tsjobahan

hanja lepasken cami derri jang djahat."

Memang Pdt. Brouwerius sudah dapat membedakan "kita" dan "kami." Namun masih banyak kesalahan dalam Perjanjian Baru bahasa Melayu yang diterjemahkannya. Apalagi, seluruh Perjanjian Lama masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di Nusantara.

Tujuh tahun setelah Kitab Perjanjian Baru terjemahan Brouwerius itu diterbitkan, seorang pendeta tentara tiba di Jawa Timur. Siapa namanya? Dr. Melchior Leydekker. Di samping menjadi seorang pendeta, ia juga seorang dokter. Pada tahun 1678, Dr. Leydekker pindah lagi dari jawa Timur ke Jakarta, dan tetap tinggal di ibu kota selama sisa umurnya.

Dr. Leydekker menjadi pandai sekali berkhotbah dalam bahasa Melayu. Jadi, pada tahun 1691 dialah yang ditunjuk untuk mulai menyiapkan suatu terjemahan seluruh Alkitab dalam bahasa yang dapat dipahami di seluruh Nusantara.

Selama sepuluh tahun Dr. Leydekker bekerja dengan tekun. Terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dihasilkannya. Lalu ia terus mulai mengalih-bahasakan Kitab Perjanjian Baru. Sayang, ia tidak sempat menyelesaikan tugas yang mulia itu: Ia meninggal pada tahun 1701, setelah mengerjakan terjemahannya sampai dengan Efesus 6:6.

Kutipan Doa Bapa Kami dari terjemahan bahasa Melayu Dr. Melchior Leydekker di bawah ini telah disusun kembali menurut ejaan yang disempurnakan dan menurut tanda-tanda baca yang modern. Dengan demikian lebih jelaslah persamaannya dengan ayat-ayat yang sama itu dalam terjemahan biasa bahasa Indonesia:

"Bapa kami yang di sorga,

namaMu dipersucilah kiranya

KerajaanMu datanglah.

KehendakMu jadilah,

seperti di dalam sorga, demikianlah di atas bumi.

Roti kami sehari berilah akan kami pada hari ini.

Dan ampunilah pada kami segala salah kami,

seperti lagi kami ini mengampuni

pada orang yang bersalah kepada kami.

Dan janganlah membawa kami kepada percobaan

hanya lepaskanlah kami daripada yang jahat."

Salah seorang rekan Dr. Leydekker almarhum ditunjuk untuk menyelesaikan tugasnya, sehingga pada tahun 1701 itu juga sudah ada Firman Allah yang lengkap dalam bahasa Melayu. Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk putra-putri Nusantara. Mengapa sampai terjadi demikian?

Pada masa Melchior Leydekker masih menjadi seorang mahasiswa kedokteran dan kependetaan di Belanda, lahirlah di negeri itu seorang anak laki-laki dalam keluarga seorang pembantu kepala sekolah. Anak laki-laki itu lahir pada tahun 1965 dan diberi nama Francois Valentyn. Rupa-rupanya ia seorang pemuda yang pandai, karena ia baru mencapai umur 20 tahun ketika ia diizinkan meninggalkan kuliah teologinya serta pergi ke Maluku sebagai seorang pendeta. Rupa-rupanya ia juga cepat mahir dalam bahasa Melayu: Menurut kesaksiannya sendiri, ia sudah sanggup berkhotbah dalam bahasa setempat setelah belajar hanya tiga bulan lamanya.

Pada suatu hari, kebetulan seorang pendeta tua datang ke Ambon dan menginap di tempat tinggal pendeta yang masih muda tadi. Sang pendeta tua membawa serta sebuah naskah besar. "Warisan," katanya. "Naskah ini dulu ditulis oleh seorang pendeta yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Kemudian sang janda memberikan naskah ini kepadaku.

Secara tidak terduga pendeta tua itu meninggal pada waktu ia bertemu di rumah pastori di Ambon. Maka Naskah kuno itu jatuh ke dalam tangan Pdt. Francois Valentyn. Ketika diperiksa, ternyata tulisan tangan itu adalah terjemahan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu!

Pdt. Valentyn adalah seorang yang rajin. Ia rajin menyelidiki bahasa dan kebudayaan orang Maluku. Dan ia pun rajin mencari teman-teman baru di tempat pelayanannya. Salah seorang teman barunya itu adalah seorang janda kaya. Setelah menikah dengan janda itu, Pdt. Valentyn kembali ke tanah airnya pada tahun 1695. Naskah kuno itu pun dibawa ke Belanda.

Kemudian, pada permulaan abad yang ke-18 diumumkan bahwa Dr. Melchior Leydekker almarhum (dengan bantuan salah seorang rekannya) telah berhasil menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu.

Mungkinkah Pdt. Francois Valentyn menjadi iri hati? Mungkinkah ia berkeinginan supaya dia saja yang dihormati (dan bukan orang-orang yang sudah meninggal) sebagai penerjemah yang pertama-tama menghasilkan seluruh Firman Allah dalam bahasa Nusantara?

Bagaimanapun juga, Pdt. Valentyn mulai mempromosikan dirinya sebagai penerjemah naskah kuno seluruh Alkitab itu (yang hanya kebetulan saja ada di dalam tangannya). Katanya, terjemahan itu juga lebih baik, jauh lebih modern, bahkan jauh lebuh mudah dipahami terjemahan Dr. Leydekker.

Tentu saja umat Kristen menjadi bingung. Baik di Belanda maupun kepulauan Indonesia, ada orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan Valentyn, tetapi ada juga orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan Leydekker. Akibatnya, kedua terjemahan itu tidak jadi diterbitkan. Dan sekali lagi, selama berpuluh-puluh tahun, Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan putra-putri Nusantara.

Akhirnya duduk perkaranya terungkap dengan jelas. "Terjemahan Valentyn" itu diselidiki dan dinyatakan sebagai hasil karya orang lain. Lagi pula, terjemahan itu dinilai sangat jelek.

Akan tetapi sementara perselisihan pendapat itu masih berlangsung, sudah lewat juga dua puluh tahun lebih. Ada orang-orang yang merasa bahwa terjemahan Leydekker tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Maka pada tahun 1723 sebuah panitia ditunjuk untuk menyunting kembali naskah terjemahannya itu. Selama enam tahun mereka mengerjakan edisinya yang baru.

Menjelang tahun 1729, naskah terjemahan baru dari Alkitab lengkap itu dua kali disalin dengan tulisan tangan: sekali dalam huruf Latin, dan sekali lagi dalam huruf Arab. Kedua naskah itu masing-masing dikirim ke Belanda dalam dua kapal yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa walau satu naskah jadi hilang di dasar laut, namun naskah yang satunya lagi itu masih akan tiba dengan selamat. Salah seorang penyuntingnya juga berlayar ke tanah airnya, untuk mengawasi proyek penerbitan yang besar itu.

Kitab Perjanjian Baru terjemahan Leydekker keluar pada tahun 1731. Lalu Alkitab lengkap terjemahan Leydekker diterbitkan pada tahun 1733. Maka akhirnya juga Firman Allah tidak lagi bungkam dalam bahasa Nusantara!

Selanjutnya..