Selamat Datang!!!

Admin - Selamat datang di blog PMK STAN Angkatan '05

Selamat menikmati isi dari blog ini

Semoga dapat menjadi berkat bagi kita semuanya

dan mampu menjadi media komunikasi yang efektif

"Kamu sangat berarti

Istimewa dihati

Selamanya rasa ini

Jika tua nanti

Kita tlah hidup masing-masing

Ingatlah hari ini"

YEHOVAH JIREH

on Selasa, 19 Mei 2009

Genesis 22:14 And Abraham called the name of that place Jehovahjireh: as it is said to this day, In the mount of the LORD it shall be seen. (KJV)
Kejadian 22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan." (LAI – TB)

Ya, itulah keyakinan iman dari bapa orang beriman, Abraham, ketika taat melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Allah. Ketika percaya saja dan lakukan (trust and obey), akhirnya kita pun akan menikmati kesetiaan Allah akan janji-Nya, pemeliharaan-Nya, dan Dia sendiri pasti yang akan mencukupkan segala sesuatunya.
Narasi tentang iman Abraham yang diuji Allah (Kejadian 22:1-19) sungguh suatu cerita yang seharusnya membuat kita semakin tunduk serta menyerah pada kehendak Allah, maka ending-nya pun jelas, dengan mata kepala kita sendiri, kita akan melihat Allah yang menyediakan dan memelihara.
Dalam konteks pergumulan iman Abraham ini, kita melihat suatu tindakan ketaatan luar biasa, yang ditunjukkan Abraham. Dalam kondisi harus memilih: memenuhi tuntutan Allah yang tampaknya tidak bisa diterima dengan akal sehat, atau tetap mempertahankan Ishak, anak satu-satunya yang sudah sangat lama ditunggu, yang sangat ia kasihi. Secara pikiran manusia, permintaan Allah tersebut adalah suatu hal yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Allah yang setia itu, yang berjanji akan membuat Abra(ha)m menjadi bangsa yang besar (ps.12), melalui keturunannya Allah akan memberkati bangsa-bangsa (ps.15 diulang ps.18) dan bertahun-tahun ditunggu sampai akhirnya Ishak lahir (ps.21), namun sekarang Allah meminta Ishak dikorbankan??? Sungguh suatu pergumulan iman yang menggetarkan… Tapi akhirnya Abraham sampai kepada keputusan yang paling tepat, untuk lebih menuruti kehendak Allah!

Ketaatan Abraham kepada perintah Allah tidak berakhir dengan sad ending Sebaliknya, pergumulan Abraham telah melahirkan suatu dimensi pengenalan yang lebih dalam terhadap diri Allah. Dalam konteks pergolakan imannya, Abraham telah mengalami Allah sebagai “Yehovah Jireh” (Allah yang menyediakan, Allah yang mencukupkan, Allah melihat apa yang diperlukan); Dialah Allah yang menyediakan solusi bagi ketaatan iman Abraham, bahkan cerita ini ditutup manis dengan peneguhan kembali janji berkat Allah kepada Abraham (ay.15-18).
“Yehovah Jireh” bukan istilah eksklusif milik Abraham atau para tokoh Alkitab saja, tetapi merupakan sebutan yang bersifat terbuka bagi siapa saja yang mau berjalan dalam pergaulan dengan Allah yang hidup. Setiap kita yang percaya kepada Allah dapat mengalami kehadiran-Nya sebagai “Yehovah Jireh” dalam situasi pergumulan pribadi kita masing-masing. Dan yang terpenting adalah Allah dapat dialami sebagai “Yehovah Jireh” hanya dalam konteks ketaatan kita kepada kehendak-Nya!

Pengalaman itu jugalah yang membuat buletin PMK STAN edisi ini mengangkat tema “Yehovah Jireh”. Allah yang setia menyertai perjalanan PMK STAN selama ± 29 tahun ini (20 April 1979- 20 April 2008). Dari awal perjalanan PMK STAN sampai pelayannya yang terus berkembang hingga saat ini, Allah sekalipun tidak pernah meninggalkan. Allah telah, sedang dan akan terus berkarya di PMK STAN menghasilkan alumni-alumni Kristen yang akan menggarami dan menerangi bangsa ini. Bukankah pemeliharaan Allah terhadap pelayanan mahasiswa (Khususnya PMK STAN) adalah demonstrasi nyata bahwa Allah memperhatikan dan sedang bekerja atas bangsa Indonesia yang masih diliputi krisis ini?
Dalam perjalanan studi dan pelayanan kami setiap pengurus dan jemaat PMK STAN terus menikmati pemeliharaan Allah dalam setiap kebutuhan dan kecukupan, bahkan boleh menjadi saluran berkat bagi orang lain. Allah yang menyediakan dan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Ini juga doa kami kepada seluruh alumni PMK STAN di manapun berada. Hanya Allah yang sanggup mencukupkan dan menjawab setiap pergumulan, baik pekerjaan, keluarga, dan pergumulan lain tanpa terkecuali. “Taat dan setialah walau sukar jalanmu…”. Percayalah pada pemeliharaan-Nya, Yehovah Jireh… Biarlah pengharapan yang kita miliki sama seperti yang dirasakan Rasul Paulus dalam menikmati pemeliharaan Allah dalam pelayanannya (sewaktu di Filipi sedang dalam penjara), sekalipun secara manusia tak sanggup kita pikirkan.
Filipi 4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.
Selamat menikmati pemeliharaan Allah…


Kawas Rolant Tarigan
Ketua Umum PMK STAN 2007/2008

Selanjutnya..

PEGAWAI PEMERINTAH = KORUPTOR, LELET, TIDAK PROFESIONAL?

on Minggu, 10 Mei 2009

A wise man will hear, and will increase learning; and a man of understanding shall attain unto wise counsels ……..


Agak naïf memang jika kita berusaha mengabaikan stigma judul tulisan ini. Tengok saja beberapa data berikut:
1. Dugaan korupsi dalam Tecnical Assintance Contract (TAC) antara Pertamina dengan PT Ustaindo Petro Gas (UPG) tahun 1993 yang meliputi 4 kontrak pengeboran sumur minyak di Pendoko, Prabumulih, Jatibarang, dan Bunyu. Jumlah kerugian negara, adalah US $ 24.8 juta.
2. Kasus HPH dan Dana Reboisasi Hasil audit Ernst & Young pada 31 Juli 2000 tentang penggunaan dana reboisasi mengungkapkan ada 51 kasus korupsi dengan kerugian negara Rp 15,025 triliun (versi Masyarakat Transparansi Indonesia). Yang terlibat dalam kasus tersebut, antara lain, Bob Hasan, Prajogo Pangestu, dan sejumlah pejabat Departemen Kehutanan.
3. Kasus gratifikasi impor beras pada 2001-2002. Dugaan gratifikasi dari Vietnam Southern Food Corporation dalam impor beras 2001-2002 (rekanan Bulog) yang diduga telah mengirimkan uang sebesar $ 1,5 juta ke PT Tugu Dana Utama yang kemudian dikirimkan ke Widjanarko Puspoyo (mantan Direktur Utama Perum Bulog) sekeluarga.
4. Abdullah Puteh (mantan gubernur DI Aceh) pada tanggal 7 Desember 2004 dijebloskan ke Rutan Salemba, Jakarta karena dituduh korupsi dalam pembelian 2 buah helikopter PLC Rostov jenis MI-2 senilai Rp. 12,5 miliar.
5. Buruknya birokrasi tetap menjadi salah satu problem terbesar yang dihadapi Asia. Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hongkong meneliti pendapat para eksekutif bisnis asing (expatriats), hasilnya birokrasi Indonesia dinilai termasuk terburuk dan belum mengalami perbaikan berarti dibandingkan keadaan di tahun 1999, meskipun lebih baik dibanding keadaan Vietnam dan India.

Kasus dan pemaparan di atas hanya ”sebagian kecil” dari sekian banyak kenyataan lain yang terkait dengan pemerintahan. Tentu belum seluruh data di atas terbukti valid dan tentu juga masih banyak pegawai pemerintah yang jujur dan benar, namun sangat menarik memang, karena berdasarkan data-data tersebut, kebobrokan di atas hampir representative untuk semua kategori, dari yang namanya lembaga departemen sampai BUMN, dari pusat sampai daerah, dari pejabat tinggi sampai pejabat rendahan, dari cara yang intelek sampai cara yang ”kasar”.

Kalau diandai-andaikan, dengan jumlah dana hasil korupsi reboisasi saja, negara kita seharusnya sudah bisa membangun ribuan sekolah dasar atau jembatan dan jalan. Tapi apa daya, inilah kenyataan pahit bangsa kita. Konon, seorang teman pernah berseloroh, kalau suatu badan atau lembaga pemerintah sudah dimasuki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terkenal itu, pasti ada saja pejabat atau pegawai yang terseret hukuman. Entah ini karena luar biasanya insting KPK atau bisa juga karena memang hampir tidak ada bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara kita ini yang benar-benar bersih dari kategori korupsi itu. Ambil contoh, baru-baru ini ramai dibicarakan masalah Dana Non Budgeter (DNB) yang ada di departemen-departemen kita. Sebelum rame-rame diberitakan, sebagian besar pejabat menganggap kalau DNB tersebut hal yang lazim dan bukan sesuatu yang haram. Ironis bukan?

Data-data di atas (yang sangat mungkin untuk menjadi fakta) telah menjadi salah satu alasan adanya persekutuan pemerintahan. Secara singkat, tujuan dari persekutuan pemerintahan ini adalah ingin mendorong terciptanya suatu pemerintahan bangsa dan negara yang bersih dan memuliakan nama Tuhan. Jadi bukan hanya suatu pemerintahan yang bersih, namun juga berkualitas dan profesional untuk kemuliaan nama Tuhan. Persekutuan yang masih relatif hijau ini (baru berusia kurang lebih setahun) biasa disebut dengan Persekutuan Abdi Bangsa dan merupakan tindak lanjut dari komitmen beberapa rekan dan senior pegawai pemerintahan pada saat Kamp Tahunan Alumni (KTA) Perkantas tahun 2006. Untuk saat ini, kegiatan persekutuan masih terfokus pada pembentukan KTB di instansi-instansi pemerintahan dan KTB atau persekutan besar setiap Jumat akhir bulan. Perlu diketahui bahwa persekutuan ini tidak hanya untuk pegawai negeri sipil (PNS) namun juga untuk setiap pegawai dari seluruh instansi yang berbau pemerintah dan negara, seperti BI, BPK, KPK, rumah sakit pemerintah dan BUMN-BUMN.

Sebagai pegawai pemerintah di lingkungan yang berbeda-beda, pergumulan yang kami hadapi tentu sangat beragam dari jenis dan karakteristiknya. Dari diskusi dengan beberapa rekan sesama pegawai pemerintahan, ada beberapa rekan yang bergumul untuk tetap hidup ”bersih” di tengah besarnya tekanan korupsi dan kondisi penghasilan PNS yang pas-pasan, dan ada juga yang bergumul karena merasa tidak dapat mengekspresikan dan mengembangkan diri dalam pekerjaannya karena adanya pembatasan senioritas dan junioritas, birokrasi yang kental bahkan juga karena adanya diskriminasi yang dirasakan khususnya bagi kita pemikul salib.

Mungkin ada rekan-rekan yang skeptis dengan tujuan persekutuan ini yang sepertinya menendang langit. Namun secara pribadi, saya merasa sangat diberkati dengan adanya persekutuan ini. Persekutuan ini bagi saya selain merupakan tempat untuk belajar dan mengetahui kebenaran firman-Nya, juga merupakan tempat untuk sharing dan saling menguatkan satu sama lain dengan rekan-rekan sepelayanan di bidang pemerintahan. Seperti teladan yang ditinggalkan Daniel dan rekan-rekannya yang merupakan pegawai pemerintahan pada zamannya, mereka sering berkumpul untuk sharing dan saling menguatkan khususnya pada saat mengalami pencobaan (Daniel 2:17-18). Mungkin akan sangat susah bagi kita untuk mempertahankan kelakuan yang bersih seorang diri, namun dengan adanya suatu komunitas bersama, kita akan saling menguatkan satu sama lain. Peran serta kita sebagai pengikut Kristus dalam pemerintahan perlu kita perbaiki terus-menerus. Data Badan Kepegawaian Nasional mencatat bahwa sekitar 15% dari pegawai negeri sipil (PNS) seluruh Indonesia beragama Kristen Protestan dan Katolik. Dengan jumlah demikian, peranan kita seharusnya lebih terlihat lagi sebagai ”garam dan terang” bangsa ini, terlebih lagi karena pegawai pemerintahan membawa peran sebagai policy maker atau decision maker dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut salah seorang ekonom yang cukup dikenal, Iwan Jaya Azis, terhambatnya kemajuan bangsa ini sebagian disebabkan oleh policy yang salah alamat. Ini merupakan hal yang cukup menantang bagi kami pegawai pemerintahan, untuk tidak hanya menjaga kebersihan diri namun juga meningkatkan kompetensi dan profesionalitas kami. Bukan rahasia umum kalau ada saja pegawai ”Kristen” yang justru lebih memalukan daripada orang yang belum mengenal Kristus baik dalam hal kelakuan maupun kompetensi.

Harapan yang sangat besar bagi kami adalah peran serta rekan-rekan sekalian khususnya yang berstatus pegawai negeri, pegawai negara maupun pegawai BUMN baik yang senior maupun yang masih fresh graduate untuk secara aktif mengambil bagian dalam persekutuan ini. Memang hasil dari persekutuan ini mungkin tidak akan kelihatan dalam waktu singkat walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk itu. Namun sebagaimana perjuangan John Wesley dan Martin Luther King yang berjuang untuk suatu kebenaran namun tidak merasakan hasil perjuangannya karena perjuangan itu baru terealisasi beberapa puluh tahun kemudian, demikian juga hendaknya kita memandang bahwa perjuangan untuk kehidupan pemerintahan yang bersih mungkin tidak akan pernah berhenti hingga akhir hayat kita masing-masing. Pameo bilang : “Perubahan besar berawal dari perubahan yang kecil dan dimulai dari diri kita masing-masing dan dimulai dari sekarang.” Semoga stigma pegawai pemerintah yang korup, lelet dan tidak profesional dapat kita perbaiki bersama untuk kemuliaan nama Tuhan. To God be the Glory. Amin.

Irman R. Pardede SE, Ak, FRM

Selanjutnya..

PELAYANAN PAULUS

on Sabtu, 09 Mei 2009

Rahasia pelayanan rasul Paulus yang menonjol adalah bahwa ia: (1) Pengikut Kristus yang setia (1Kor.11:1); (2) banyak membaca (Kisah 17:28); (3) banyak menulis, ia menulis setengah (13/14) dari 27 kitab Perjanjian Baru; (4) tulisannya berbobot sehingga dikagumi Petrus (2Petrus 3:15-16); dan (5) pelayanannya berdampak luas. Surat rasul Paulus kepada jemaat di Roma ikut menggerakkan Martin Luther dalam menggelar Reformasinya dan juga penafsiran Surat Roma yang ditulis Karl Barth sempat menyadarkan kalangan teolog Liberal.

Hari Minggu yang lalu, ketika diundang kotbah di sebuah gereja, penulis bertemu dengan seorang pengusaha yang isterinya adalah eksekutif di perusahaan lainnya. Ia menanyakan apakah penulis masih memiliki stok buku tentang ‘Saksi-Saksi Yehuwa’ & ‘Kristen Tauhid’ karya penulis, karena pada hari Jumat berikutnya ia akan memimpin ceramah pembinaan dengan topik itu di gereja itu. Yang menarik adalah ternyata pengusaha yang sudah memiliki rumah besar dan beberapa mobil itu sekarang sedang menyelesaikan studi teologi di Singapore!

Tahun yang lalu ketika mengajar di STT-Bandung, salah seorang murid program MA adalah insinyur sipil yang sudah punya rumah di Australia dan sekarang dalam umurnya yang sudah matang ingin membekali diri dengan belajar teologi formal. Dalam beberapa kuliah angkatan program MA sebelumnya, penulis juga menjumpai puluhan sarjana praktek yang terpanggil untuk melayani Tuhan, bahkan pernah hadir seorang Doktor Sosiologi yang rindu belajar membekali diri untuk melayani Tuhan. Gejala apakah ini?Memang, belakangan ini banyak sekali kaum awam yang terpanggil untuk melayani Tuhan ditengah-tengah kesuksesan karier mereka didunia profesional, apalagi ini sekarang didukung dengan program-program pendidikan teologi yang bisa diikuti secara paruh-waktu atau diselenggarakan diluar jam kerja. Kesempatan demikian belum ada ketika penulis sebagai seorang profesional menyerahkan diri untuk belajar teologi menyiapkan diri melayani Tuhan di tahun 1972. Pada waktu itu belum ada program off-campus, paruh-waktu, maupun malam hari, akibatnya penulis harus sepenuhnya masuk ke sekolah teologi kala itu meninggalkan pekerjaan & keluarga yang menunggu.

Pernah dalam Kongress Penginjilan Sedunia di Manila (1989) yang disponsori Badan Misi Billy Graham, pada satu sesi yang membahas ‘The Ministry of the Laity,’ penceramah menanyakan kepada hadirin yang terdiri dari sekitar 3.000 pendeta, penginjil & aktivis gereja itu: “Siapakah yang menjadi Kristen karena Kotbah di Gereja?” Yang berdiri sekitar 10% hadirin. Kemudian ditanyakan lagi: “Siapakah yang menjadi Kristen karena KKR?” Yang berdiri juga sekitar 10%. Namun, ketika ditanyakan lagi: “Siapakah yang menjadi Kristen karena kesaksian keluarga atau teman-teman?” Yang berdiri ternyata sekitar 70%! Persentase yang mirip juga didukung beberapa survai.

Menarik untuk mengetahui bahwa peran kaum awam (dibedakan dengan pendeta jemaat) ternyata luar biasa, sebab mereka menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang secara struktural tidak digaji oleh gereja, tetapi mereka umumnya membiayai sendiri pendidikan teologi yang mereka ikuti, karena pada umumnya mereka adalah orang-orang yang sudah bekerja di dunia sekuler. Keunikan lainnya dari pelayan awam (laity) ini adalah mereka adalah orang-orang profesional yang sudah memiliki pengalaman kerja dan interaksi didunia profesi mereka. Bukan hanya itu, kaum awam dengan mudah menerobos dunia diluar kebaktian dan dinding-dinding gereja, mereka dapat masuk ke kantor-kantor dan bertemu kolega dimana mereka bekerja sehari-hari. Dan, dalam angket spontan di Manila itu sudah ditunjukkan bahwa peran mereka luar biasa!

Penulis sendiri sering mengalami hal serupa, karena sebagai konsultan sekalipun sudah memiliki profesi ketika belajar teologi, sering melayani para konsultan didunia profesional. Beberapa cuplikan contoh berikut menggambarkan kenyataan itu. Pernah pada tengah malam ketika berada diudara melintasi gurun pasir dalam perjalanan dari London ke Abu Dabi, di sebelah penulis duduk seorang konsultan wanita yang bekerja dalam proyek pemerintah Inggeris. Ngobrol-ngobrol soal rohani, ia mengatakan bahwa dahulu ia sering ke gereja tetapi sejak menikah ia sudah jarang ke gereja. Kesempatan ini digunakan penulis untuk bersaksi, dan ia siap mendengar, apalagi mengetahui bahwa yang diajak bicara olehnya adalah seorang konsultan juga yang jam terbangnya lebih dari dirinya (baik terbang diudara maupun terbang didunia profesional).

Pernah juga ketika mengantar seorang konsultan dari Unicef, dalam bincang-bincang rohani di taxi, ia akhirnya mengaku bahwa ia juga seorang anggota gereja yang dulunya aktif. Pernah disebuah hotel di Surabaya, penulis tinggal sekamar dengan konsultan dari Bangladesh yang bekerja di Indonesia melalui United Nations Volunteer. Penulis membawa salah satu nomor Makalah Sahabat Awam yang diterbitkan Yabina berjudul ‘Etika Bisnis’ dan meletakkannya di meja di antara dua twin bed. Ia tertarik dan meminta MSA itu sambil bertanya beberapa hal mengenai kerohanian. Ketika naik bis ke ‘The Great Wall’ dalam rangka Earoph World Planning Congress di Beijing, disebelah penulis duduk dosen tata-kota ITB yang mengeluh karena “Di Beijing makanannya babi melulu.” Ini menjadi entry-point untuk bersaksi bahwa “Yang menajiskan bukan yang masuk ke dalam mulut, tetapi yang keluar dari mulut.” Ketika delegasi Indonesia diperkenalkan oleh Direktur Tatakota dalam World Congress of Metropolis di Melbourne, ketika menyebut nama penulis, ia melanjutkan dengan komentar didepan hadirin: “He is also a pastor, urban planning also needs God.”

Pernah waktu mengikuti ‘World Planning & Housing Congress’ di Adelaide, penulis mengadakan kontak dengan seorang dokter gigi asal Hongkong yang praktek disana tetapi juga merintis jemaat Tionghoa untuk menjangkau Para mahasiswa yang berasal dari Hongkong, China, Taiwan dan Singapore. Ketika mengundang makan malam dirumahnya, ia meminta agar penulis mengajak Congress Participants yang berasal dari China. Empat orang bisa diajak dan malam itu sungguh indah. Dinner yang menunjukkan keeratan hidup berkeluarga dilanjutkan dengan bernyanyi bersama lagu-lagu rakyat seperti ‘My Bonnie’ kemudian dilanjutkan dengan menyanyi ‘How Great Thou Art.’ Suasana menjadi haru karena Para profesional China itu sempat mengeluarkan air mata, dan ada yang mengaku bahwa ia dulunya kristen namun sekarang tidak lagi. Seorang tokoh tata-kota lainnya mengaku dulunya ia anggota gereja Episkopal di China dan ia berjanji akan aktif kembali mengunjungi gereja dan Tuhannya!

Yang menarik, Peter Chen, dokter gigi itu, dulunya selagi menjadi mahasiswa bersama Soen Siregar dan Yonatan Parapak, mengadakan Kelompok Tumbuh Bersama di kampus Australia, dan kedua profesional yang terakhir ini kemudian merintis pelayanan mahasiswa (Perkantas) di Indonesia. Pelayanan di kalangan mahasiswa berkembang karena pelayanan Para profesional yang dipanggil melayani Tuhan. Sapto Siregar yang selagi menjadi mahasiswa pertambangan di ITB aktif dalam pelayanan mahasiswa ‘Para Navigator’ kemudian mengambil doktornya di mancanegara dan menjadi dosen pertambangan di ITB. Baik Yonathan Parapak yang sekarang rektor Universitas Pelita Harapan maupun Sapto Siregar yang sekarang menjabat juga sebagai rektor Universitas Kristen Maranatha sekarang ikut menyirami kerohanian kedua Universitas yang mereka layani!

Pelayanan mahasiswa memang berdampak dalam dan lama, pada medio tahun 1970-an seusai menyelesaikan studi teologi, penulis menjabat Dekan Fakultas sekaligus Chaplain (pendeta mahasiswa) di Universitas Kristen Petra di Surabaya. Tidak disadari bahwa salah satu mahasiswi yang belajar disitu yang kemudian terus menapaki jalur S1, S2 dan melanjutkan S3 di Mancanegara, kemudian diangkat menjadi Profesor. Dalam upacara pengangkatan sebagai guru besar di tahun 2007, ia mengusulkan penulis yang tinggal di Depok untuk diundang memberikan orasi rohani, ini terjadi 30 tahun setelah ia bersentuhan dengan pelayanan mahasiswa/i ketika masih menjadi mahasiswi!

Memang pelayan kaum awam dianggap oleh sebagian pendeta formal sebagai pesaing, soalnya bagi seorang lulusan SMU yang kemudian masuk ke STT dan menjadi pendeta, para profesional yang belajar teologi memiliki kelebihan jam terbang sekuler, jadi dapat dimaklumi kalau mereka ditolak oleh sebagian pendeta dan dianggap akan merebut porsi pelayanan mereka. Pernah seorang ketua Sinode berkata kepada penulis, bahwa ia tidak bisa menerima karena penulis mendirikan YABINA ministry yang tidak berada dibawah Sinode, namun yang menarik, ketua sinode penggantinya bahkan mengundang penulis untuk ceramah dan memoderasi ceramah, penulis disitu diperkenalkan sebagai ketua YABINA! Bagi sebagian pendeta lainnya, pelayan profesional merupakan berkat yang Tuhan sediakan karena mereka dapat menjadi perpanjangan tangan gereja dan membantu pendeta dalam menjangkau para profesional di dunia sekuler yang tidak bisa dijangkau oleh pelayanan gereja tanpa harus disediakan dana dari kantong persembahan. Pernah ketika berbincang-bincang dengan almarhum rekan penulis, yaitu Dr. Eka Dharmaputera, ia bertanya apa bidang pelayanan penulis? Ketika dijawab pelayanan melalui ‘Membekali Kaum Awam melalui YABINIA ministry,’ ia tersentak kagum dan memberi komentar: “Memang itu Panggilan Tuhan!.” Kenyataannya kemudian, banyak pimpinan sinode mengundang YABINA ministry untuk berbicara bahkan bersama dengan Ketua PGI atau Ketua STT-Jakarta, malah BPK-GM mengundang khusus penulis hadir sebagai penulis buku laris pada perayaan HUT mereka, dan penulis juga diangkat sebagai anggota Komisi Pengkajian Biblika LAI.

Rasul Paulus adalah seorang profesional, pemikir, autodidak, dan mampu menghidupi diri sendiri dengan membuat kemah (1Tes.2:9; 2Tes.3:7-9), ia juga pernah mengalami penolakan dari para Rasul yang merasa merekalah murid Tuhan yang sah dan menganggap Paulus sebagai pesaing yang tidak berlisensi. Namun Petrus mendukungnya dan mengakui kelebihan rasul Paulus dan mendorong pendengarnya agar mempelajari hikmat Paulus (2Ptr.3:14-16). Masih banyak bidang pelayanan yang belum tersentuh pelayanan gereja-gereja!

Bagaimana menjadi pelayanan Tuhan yang efektif mengikuti jejak Rasul Paulus?

Paulus mengatakan agar mengikuti teladannya seperti ia
(1) mengikuti Kristus;
(2) belajarlah banyak sambil mengikuti pendidikan teologi;
(3) banyaklah melayani melalui tulisan karena tulisan berdampak dalam dan lama;
(4) Tulislah dengan berbobot yang mendarat sesuai pengalaman profesional; dan
(5) Jangkaulah Para profesional seluas mungkin melengkapi pelayanan gereja-gereja!

Saudara/i, ladang para profesional sudah menguning, marilah ikut serta sebagai penuai!

Selanjutnya..

MURID KRISTUS: PENGABDI KRISTUS, SEUMUR HIDUP

on Sabtu, 02 Mei 2009

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:18 – 20)


Sebelum Tuhan Yesus naik ke sorga, Ia mengumpulkan para murid-Nya untuk kembali bertemu dengan Dia. Ketika sepertinya para penentang Yesus berkuasa memutarbalikkan kebenaran, di mana sebelumnya “menang” dengan menyalibkan Yesus (ayat 11 – 15), namun dalam ayat 18 Yesus-lah Pribadi yang Paling Berotoritas di bumi dan di sorga, karena Ia-lah Tuhan atas semesta. Semua otoritas ada di tangan-Nya.

Berdasarkan otoritas-Nya, Yesus memberikan perintah kepada murid-murid-Nya dalam ayat 19 – 20 yang merupakan perintah terakhir-Nya yang dicatat di dalam Injil Matius. Dalam bahasa aslinya (Yunani), dua ayat ini hanya mengandung dua perintah di mana perintah yang pertama yaitu kata-kata “…jadikanlah semua bangsa murid-Ku…” (hanya kata ‘jadikanlah’ yang bersifat imperative (kata perintah), sedangkan kata ‘pergilah’, ‘baptislah’, dan ‘ajarlah’ bersifat participle (kata kerja atau benda))


Meskipun ada banyak hal yang dapat diperintahkan Yesus, mengapa perintah ini yang Ia sampaikan untuk dilakukan? Ini menunjukkan bahwa bagi Tuhan Yesus, sebelum Ia ke sorga, menghasilkan murid Kristus merupakan hal yang sangat penting (namun bukan berarti hal-hal lain tidak penting atau kalah penting). Para murid harus kembali menghasilkan murid dari segala bangsa. Dapat disimpulkan bahwa adalah kerinduan Yesus sendiri agar dari semua bangsa dihasilkan murid-murid Kristus.

Apa itu murid?
Dalam konteks saat itu, seorang murid tidak hanya seorang terpelajar, yang belajar dari gurunya, melainkan juga seorang pengikut dan pengabdi (dalam Mat 10:24, Luk 6:40, hubungan guru dan murid disejajarkan dengan hubungan antara tuan dan hamba; relasi yang menggambarkan pengabdian). Dengan demikian, seorang murid Kristus berarti adalah seorang yang mengabdikan seluruh hidupnya hanya kepada Yesus sebagai yang terutama dan segala-galanya. Itulah mengapa Tuhan Yesus memberikan pernyataan yang keras ketika banyak orang berduyun-duyun mengikuti-Nya (Luk 14:25 – 35). Ia meminta agar mereka memikirkan harga yang harus dibayar untuk mengikut Yesus, yaitu mencintai Yesus lebih dari semua orang terdekat bahkan hidupnya sendiri, menderita demi Dia, dan rela melepaskan hal yang paling berharga demi Yesus. Seorang murid Kristus adalah seorang pengabdi Kristus.

Apa itu pemuridan?
Dalam Mat 28:19 – 20, terkandung beberapa hal dalam perintah untuk menghasilkan murid Kristus. Kata ‘baptislah’, ‘ajarlah’ dalam bahasa aslinya berbentuk present active participle. Bentuk present menunjukkan bahwa tindakan tersebut dilakukan terus-menerus. Menghasilkan murid Kristus merupakan tindakan yang tidak dilakukan sekali saja, atau kadang-kadang. Ke manapun para murid pergi, mereka diminta menghasilkan murid Kristus.Dalam memuridkan ada konsistensi.

Bentuk active menunjukkan bahwa tindakan membaptis dan mengajar melibatkan peran aktif para rasul. Meskipun kelahiran kembali, pertobatan, pertumbuhan rohani datangnya dari Allah, namun manusia tidak boleh pasif dalam pemuridan. Allah memnta kita juga terlibat secara aktif dalam pemuridan.

Untuk menjadikan murid, Yesus menyampaikan mengenai membaptis ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Baptis merupakan simbol seseorang telah ditenggelamkan, dipersekutukan dengan Allah Tritunggal. Mengapa manusia harus dipersekutukan dengan Allah? Karena manusia telah berdosa, dan hubungan manusia dengan Allah menjadi rusak sehingga harus dipulihkan kembali. Manusia harus dikembalikan kepada Allah. Menghasilkan murid Kristus melibatkan penginjilan. Dengan demikian, dalam memuridkan, orang dibawa kepada pengenalan yang benar akan Allah sehingga memiliki relasi yang benar dengan Allah.

Selain membaptis, Yesus juga menyebutkan mengenai mengajar agar orang yang diajar melakukan semua yang telah Tuhan perintahkan. Dalam pemuridan, ada pengajaran firman Tuhan yang baik dan benar yang disampaikan. Namun demikian, dalam memuridkan tidak hanya membawa orang untuk tahu banyak tentang pengajaran firman Tuhan, melainkan membawa mereka untuk menaati-Nya. Dapat disimpulkan bahwa pemuridan adalah proses menghasilkan murid, yaitu membawa orang untuk menjadi milik Allah, mengenal Allah, dan menaati Allah seumur hidup.

KK dan pemuridan
Ada banyak cara untuk melakukan dan mengalami pemuridan. Kelompok Kecil (KK) merupakan salah satunya. Tuhan Yesus melakukan 3 macam pendekatan dalam pelayanan-Nya, yaitu massa, pribadi, dan kelompok. Hal yang menarik adalah Yesus paling banyak menghabiskan waktu secara intensif untuk sekelompok kecil murid-Nya. Bahkan dalam pelayanan pribadi dan massa yang Ia lakukan, beberapa kali dinyatakan kelompok kecil-Nya turut menyertai-Nya. banyak sekali pengajaran Yesus ditujukan kepada para murid-Nya. mereka menjadi orang-orang yang paling tahu hidup dan pengajaran Yesus serta yang meneruskan pekerjaan misi Allah setelah Yesus menyelesaikan bagian misi-Nya di dunia.

Persekutuan Besar yang diadakan secara rutin di sekolah, kampus, kantor, Ibadah Minggu di gereja sudah seharusnya merupakan wadah pemuridan. Namun salah satu wadah yang efektif dalam pemuridan adalah KK. Melalui apa yang Yesus lakukan dalam memuridkan para murid-Nya, kita melihat beberapa hal yang seharusnya menjadi penekanan dalam KK. Jika Yesus menggunakan waktu sekitar 3 tahunan untuk mengelompokkecilkan murid-murid-Nya, tidak bisa tidak dalam KK ada waktu yang harus dicurahkan dalam pemuridan. Jika Yesus mengajar dan mengajak murid-murid-Nya mengikut Dia (Mrk 8:34 – 35, mengikut Aku dalam bahasa aslinya berarti mengikuti setiap jejak langkah Yesus), tidak bisa tidak dalam KK ada teladan yang dibagikan, yaitu teladan Kristus yang berjuang dihidupi oleh setiap personel KK. Sebagaimana Yesus yang memberikan pengajaran dan meminta untuk dilakukan, sudah seharusnya di dalam KK tidak hanya terdapat pembahasan firman melainkan juga ada penerapan dari setiap firman yang dibagikan; ada proyek ketaatan firman dalam setiap pertemuan KK.

Jikalau kepada kita telah disediakan wadah KK dan KTB, mari lihat wadah-wadah ini sebagai sarana yang efektif dalam pemuridan. Harus tetap diingat bahwa KK bukan sekedar wadah curhat, belajar Alkitab, bagi hidup dan pengalaman. Kelompok Kecil adalah metode, tujuannya adalah Kristus, agar kita makin menunjukkan karakter murid Kristus, dan makin mengabdikan seluruh hidup kita kepada Kristus.

Ketika dalam Alkitab pengikut Kristus disebut murid Kristus, yang artinya bahwa seorang Kristen adalah seorang murid, terlibat dalam proses memuridkan adalah kewajaran dan bukan pilihan. Ketika di sekolah, di kampus, ada wadah KK dan KTB (Kelompok Tumbuh Bersama), hayati sebagai sarana membentuk hidup yang berpusatkan pada Kristus. Menjadi alumni, bukan berarti berhenti menjadi murid. Mengabdi kepada Kristus dan menghasilkan pengabdi Kristus adalah panggilan seumur hidup. Tetaplah terlibat dalam proses pemuridan, terlibatlah dalam KTB-KTB alumni, dengan firman Tuhan menempati porsi utama, bahkan ketika berkeluarga muridkanlah setiap orang yang ada dalam keluarga. Bayangkan apa yang akan terjadi di bangsa dan negara ini jika di sekolah-sekolah, kampus-kampus, keluarga-keluarga, gereja-gereja, dan kantor-kantor, muncul murid-murid Kristus?

Pemuridan dan Penyertaan Allah
Tidak ada suatu hal yang dapat berhasil tanpa Allah terlibat di dalamnya. Pemuridan tidak akan berhasil tanpa Allah bekerja di dalamnya. Itulah mengapa, dalam Mat 28:18 – 20, Yesus memberikan perintah kedua sesudah perintah memuridkan yaitu“…ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (kata ketahuilah berbentuk imperative, atau perintah). Sebagaimana pemuridan adalah seumur hidup, meski tidak harus PKK akan seumur hidup memimpin AKK-nya karena Allah bisa hadirkan orang lain untuk memuridkannya berkaitan situasi dan kondisi mereka, penyertaan Allah juga nyata bahkan sampai kepada akhir zaman. Karena visi pemuridan ini adalah dari Allah, Ia-lah juga yang berkenan atas wadah pemuridan dan Ia pasti menggenapi visi-Nya. Mungkin ada orang-orang yang begitu cepat bertumbuh di dalam KK, namun ada juga yang sepertinya lambat berubah. Harus tetap diingat bahwa pembaruan hidup datangnya dari Allah, karena kuasa Allah dan dalam waktu Allah. Satu hal yang pasti, penyertaan Allah sudah seharusnya membawa kepada pengharapan dan ketekunan. Di atas semuanya itu, rindukah engkau terlibat dalam pemuridan ini? Seperti apakah KK atau KTB yang engkau ikuti, apakah semakin membawa setiap anggotanya menjadikan Kristus sebagai yang terutama dalam hidup bahkan lebih utama daripada hidup?

oleh: Abraham Tonapa, S.Si.


Selanjutnya..

KASIH KARUNIA YANG MAHAL

Ketika mau merenungkan kasih karunia yang mahal, saya teringat dengan Dietrich Bonhoeffer. Dia adalah teolog Jerman yang berjuang melawan kediktatoran Hitler pada PD II. Karena perjuangannya, dia di penjara dan dihukum mati beberapa waktu sebelum Jerman kalah perang dan menyerah.

Selama dalam penjara dia menulis sebuah buku yang berjudul The Cost of Discipleship (Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh BPK-GM dengan judul Mengikut Yesus). Buku ini adalah hasil refleksi kritis Bonhoeffer terhadap kondisi gereja di zamannya. Salah satu topik yang dibicarakannya adalah “ cheap grace” (kasih karunia murahan). Dia mengatakan bahwa pada saat itu gereja telah merosot dengan memproklamasikan “cheap grace”.

“Cheap grace is preaching of forgiveness without requiring repentance, baptism without church discipline, communion without confession. Cheap grace is grace without discipleship, grace without the cross, grace without Jesus Christ.” Itulah peringatan Bonhoeffer lebih dari enam puluh tahun yang lalu.

Peringatan Bonhoeffer ini tentu tetap relevan untuk kita masa kini. Sebab dalam banyak hal barangkali kita sebagai orang Kristen sedang menghayati dan menjalani cheap grace, kekristenan tanpa menjadi murid, tanpa pelayanan, tanpa pengorbanan, tanpa salib, bahkan tanpa Yesus Kristus.

Pada masa Paskah ini alangkah baiknya kita kembali menghayati kasih karunia yang mahal yang dikerjakan Allah untuk kita, yakni keselamatan kita. Supaya bisa menghayati kasih karunia yang mahal itu, saya mengajak kita merenungkan 3 hal penting dalam Mrk 8:31-38 tentang mengapa kasih karunia itu mahal?

Pertama, karena Allah membayar mahal untuk kita. “Anak manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (31). Harga keselamatan kita sangat mahal. Sebagai manusia berdosa kita tidak mungkin menyelamatkan diri dari penghakiman Allah sebab upah dosa adalah maut (Rm 3:23). Tempat kita manusia berdosa sebenarnya adalah kerajaan maut (neraka). Tetapi Allah penuh dengan rahmat, kasih-Nya besar, dilimpahkan-Nya kepada kita (Ef 2:4). Lalu Dia mengutus Anak-Nya yang Tunggal turun ke dunia, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Fil 2:7-8). Yesus Kristus, Anak Allah, membayar dengan nyawa-Nya sendiri untuk keselamatan kita. Harga keselamatan kita adalah penderitaan dan kematian Yesus Kristus di kayu salib. Mahal? Ya,. Mahal sekali.

Kedua, karena lebih berharga dibandingkan harta dunia ini. “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia ini, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (36-37). Memperoleh seluruh dunia ini dapat diartikan melengkapi diri dengan benda-benda duniawi, menjadi kaya (Bolkestein:1985). Kehilangan nyawa secara harfiah diartikan “menderita kerugian pada jiwanya”, yang dapat juga berarti “kehilangan hidup kekal atau keselamatan”. Jadi Yesus hendak mengatakan bahwa nilai keselamatan yang disediakan Allah tidak sebanding dengan seluruh isi dunia. Karena apa pun – termasuk harta benda seiisi dunia ini - tidak dapat membayar kehidupan kekal atau keselamatan itu. Sungguh keselamatan itu mahal bukan. Karena itu alangkah bodohnya seseorang ‘melepaskan’ Kristus demi jabatan, wanita cantik, pria ganteng, dan harta benda yang berlimpah.

Ketiga, karena pemilik keselamatan (kasih karunia yang mahal) itu harus bayar harga dengan mahal juga. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut aku. (34-35). Tuntutan utama bagi pemilik keselamatan, yakni murid Kristus, ialah keputusan untuk menyangkal diri. Menyangkal diri adalah kebalikan dari mempertahankan diri, yakni kesediaan untuk menanggalkan hak dan berkorban. Tentu ini tidak ada kaitan dengan penyangkalan diri menurut paham Budhisme, tetapi lebih ke arah mempersembahkan hidup ini demi kehendak Yesus dan Kerajaan Allah. Mempersembahkan pikiran, waktu, tenaga, uang, dalam semangat berkorban (bukan karena kelebihan atau sisa-sisa!) adalah bagian dari menyangkal diri. Yang kedua adalah memikul salibnya. Salib adalah lambang penderitaan dan kehinaan. Setiap murid Kristus harus siap menderita dan terhina karena Kristus. Ya, sebagaimana Kristus membayar mahal untuk keselamatan itu, murid Kristus pemilik keselamatan itu pun harus siap sedia membayar mahal untuk itu. Di balik perkataan ini, sebenarnya Yesus hendak mengatakan, siap sedia mati untuk-Ku.

Lalu terakhir yang diperintahkan Yesus adalah mengikut Dia dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mengikut secara kontinu dan tetap. Dalam hal ini terutama adalah menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak dan perintah Yesus, karena Dia adalah Allah dan Juruselamat kita. Yesus menjadi pemimpin dan pengarah hidup kita, bukan diri kita lagi. Tidak mudah, tetapi pemilik kasih karunia yang mahal harus sampai pada hidup seperti itu.

Di manakah posisi kita para siswa, mahasiswa, dan alumni Kristen saat ini? Apakah seperti disinyalir Bonhoeffer sebagai Kristen yang menghidupi cheap grace (kasih karunia murahan)? Semoga tidak. Semoga kita semua menghidupi costly grace (kasih karunia yang mahal) , karena kita mengerti dan memahami bahwa keselamatan itu memang kasih karunia yang mahal sebagaimana dinyatakan Firman Tuhan yang kita renungkan. Amin. Selamat Paskah.

Selanjutnya..

BEKERJA : SEBUAH KESEMPATAN BESAR

on Jumat, 06 Maret 2009

9. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah m emanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: 10. kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan (1 Petrus 2:9-10)

John Wyatt, berkata “ Dalam situasi dunia saat ini, maka tempat yang terbaik untuk menjalin persahabatan dengan non Kristen adalah tempat kita bekerja. Bekerja akan memberikan kepada kita kesempatan yang besar dan tak tertandingi untuk kesaksian kristiani kita.” Tempat kerja adalah kunci untuk memperbaharui lingkungan (society) bagi Kristus. Dan ini bukanlah ide yang baru, pada tahun 1945 di Inggris dikenal suatu dokumen berjudul “Menuju pertobatan negara Inggris”.


Dalam dokumen tersebut tercantum kalimat sbb: “Kita memiliki keyakinan yang kuat bahwa Inggris tidak akan pernah diperbaharui (bertobat), sampai orang-orang awam menggunakan kesempatan mereka sehari-hari melalui berbagai profesi, dan pekerjaan mereka untuk bersaksi” Hal ini masuk akal. Kunci penginjilan adalah relasi antar pribadi. Dan tempat dimana orang bertemu dan berelasi adalah tempat pekerjaan. Saudara tidak perlu datang untuk mengetuk pintu, mengundang dalam KKR, tetapi mereka ada di sekitar saudara . Bukan hanya 1 atau 2 jam tetapi mungkin sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun saudara akan punya kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Dunia kerja, memberikan suatu kesempatan yang besar untuk kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah. Melalui pembicaraan, sikap dan tindakan kita mengkomunikasikan nilai dan kredibilitas, dan relefansi Kekristenan dalam setiap aspek kehidupan nyata.

Pelayanan Persekutuan Alumni Kristen Jakarta (PAKJ) merindukan “Adanya alumni-alumni yang hidup mengenal Kristus, menjadi murid Tuhan yang taat, tangguh dan menjadi teladan sehingga hidupnya menjadi berkat yang nyata bagi keluarga, gereja dan masyarakat.” Kita rindu Alumni-alumni yang telah menikmati pelayanan mahasiswa, boleh terus bertahan dan tidak larut dalam segala tantangan di dunia pekerjaan. Di tengah kondisi Indonesia yang menghadapi berbagai macam krisis. Dan yang paling parah adalah krisis keteladanan. Kita merindukan, masyarakat Indonesia akan diterangi oleh para ekonom, para insiyur, para dokter, para ahli lingkungan, para peneliti, para guru dan dosen, para sutradara, para karyawan dan karyawati yang mengasihi Tuhan lebih dari segalanya dan membenci dosa lebih dari segalanya. Kalau saya bertemu dan sharing dengan beberapa alumni tentang pekerjaan mereka, kadang saya sungguh senang dan bangga apabila mereka berani untuk bersikap, berpegang pada prinsip, rela menderita, terus terlibat pelayanan. Walaupun kadang mereka mengeluh akan beratnya pergumulan dan tuntutan nilai duniawi, namun saya cukup senang karena hal tersebut berarti saat ini mereka tetap terus berusaha dan berjuang. Dan sebaliknya, saya sangat sedih ketika bertemu beberapa alumni yang mundur, yang kumpul kebo, yang larut dalam nilai-nilai duniawi dan kehilangan idealis mereka. Ditengah kondisi Indonesia yang semarawut dan tanpa kepastian ini, marilah kita berdoa agar Tuhan menggerakkan ribuan alumni yang berdedikasi, berdisiplin dan beriman untuk kembali membangun bangsa ini.

Untuk beberapa tahun ini PAKJ menfokuskan pelayanan kepada alumni muda. Mengapa? Hal ini, karena menurut kami setiap lulusan baru akan melewati masa-masa transisi yang sulit (Critical transision). Jauh lebih mudah lulus dari Perguruan Tinggi, karena segala sesuatu yang terukur dan pasti. Namun memasuki kehidupan alumni, segala sesuatunya seolah berubah menjadi tidak pasti. Pada saat wisuda saya sungguh senang, perjuangan berat dalam membuat skripsi telah usai, saya berpikir wah enak, tidak ada lagi tugas, tidak ada lagi praktikum, tidak ada lagi ujian, dll. Namun hanya beberapa saat setelah itu, saya mulai diliputi oleh kebingungan mau kemana saya, mau mengerjakan apa, di mana saya dapat menemukan pekerjaan yang cocok. Kita akan mulai memasuki pengalaman tidak lulus seleksi, tidak dipanggil, susah, bosan, dan jenuh mencari pekerjaan. Alumni baru akan menghadapi kondisi yang tiba-tiba berubah.
  1. Dari lingkungan yang memegang prinsip ( prinsip-prinsip kebenaran yang banyak dibagikan saat pembinaan di kampus yang dipegang oleh seorang mahasiswa Kristen) ke lingkungan yang penuh dengan kompromi, budaya perusahaan yang money oriented, teman-teman yang tidak bersahabat, curang, korupsi dll. Dunia yang sehari-harinya dihadapi adalah dunia yang menawarkan kenikmatan dunia
  2. Dari teman-teman KK yang dekat, ke teman-teman yang baru di kantor. Biasanya teman-teman PMK mulai menghilang satu persatu dengan berbagai kesibukannya, dengan demikian persekutuan yang erat dengan saudara seiman dan mendukung pertumbuhan rohani mulai hilang. Kost yang baru, kota yang baru, dll. Sehingga wajar kalau banyak alumni baru yang merasa kesepian karena sudah mulai jarang bertemu teman-teman, persekutuan juga sudah tidak ada dan di lingkungan yang baru sulit untuk menemukan teman-teman yang sehati sepikir.
  3. Tuntutan meningkat. Keluarga menuntut untuk segera bekerja dan ikut ambil bagian dalam keuangan keluarga. Gereja menuntut untuk alumni mengambil peranan/melayani di Gereja. Diri sendiri menuntut untuk bisa mewujudkan harapan-harapan orang tua, cita-cita sendiri, kesuksesan, karir yang bagus, dsb.
  4. Pertumbuhan rohani mandek atau bahkan menurun karena semakin sibuknya dengan pekerjaan, semakin sedikit waktu untuk berdoa, saat teduh apalagi untuk PA pribadi.
Kondisi ini juga diperburuk karena tidak ada atau belum menemukan wadah persekutuan ataupun wadah pertumbuhan bersama teman seiman seperti KTB. Pembinaan rohani sulit didapat. Gereja kurang memperhatikan kebutuhan alumni. Persekutuan kantor masih jarang (masih sedikit kantor yang memiliki persekutuan). 5. Bagi yang belum mempunyai pasangan, bergumul untuk menemukan pasangan hidup. 6. Bergumul dengan cita-cita atau harapan diri sendiri untuk sukses, menyenangkan hati orang tua dan keluarga. 7. Bergumul dalam mengetahui kehendak Tuhan dimana dan bagaimana dapat berperan yang tepat dalam Gereja, masyarakat dan negara. Masa-masa awal seorang alumni bekerja menjadi masa yang sangat menentukan seperti apa saudara nantinya dan bagaimana rekan-rekan anda menilai saudara. Ketika saudara mulai kompromi dengan dosa diawal tahun pekerjaaan saudara, maka akan begitulah selanjutnya. Kiranya melalui keterlibatan alumni-alumni pelayanan Siswa, Mahasiswa, Medis dalam dunia kerja, lingkungan (society) dapat diperbaharui, dan perbuatan Allah yang ajaib terus diberitakan.

Daniel Adipranata

Selanjutnya..